Chatib Basri, Menkeu Spesialis Krisis Ekonomi, Temui Prabowo di Istana, Luhut Jadi Pendamping

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Ekonom Muhammad Chatib Basri mendatangi Istana Kekepala negaraan Jakarta pada Selasa (9/6/2026). Chatib, yang dikenal sebagai aparatur negara kementerian keuangan yang sempat mengangkut Indonesia keluar dari bibir jurang krisis ekonomi pada 2013, datang bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.

Kedatangan Chatib di Istana menjadi sorotan di tengah santernya rumor bahwa Presiden Prabowo Subianto akan mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan di tengan kondisi perekonomian yang lesu.

Chatib sendiri, kepada wartawan, mengaku kehadirannya di Istana demi bertemu secara langsung bersama Presiden Prabowo Subianto.

“Iya,” kata Chatib singkat kepada wartawan di Istana, Selasa (9/6/2026).

Chatib menerangkan pertemuan bersama Prabowo tidak dilakukan secara empat mata, melainkan bersama bersama Luhut. Meski demikian, terkait apa pembahasan dalam pertemuan, Chatib tidak menjawab.

“Tanya Pak Luhut,” kata Chatib saat ditanya siapa saja yang akan hadir dalam pertemuan tersebut.

Chatib sekaligus menanggapi ihwal namanya yang santer disebut bakal menggantikan Purbaya sebagai Menkeu.

“Saya enggak tahu,” kata Chatib.

Ia tidak menerangkan gambalang saat ditanya kepulangannya ke tanah air dari Amerika Serikat perihal rumor bakal menjadi bendahara negara.

“Enggak, baru diurus kini,” kata Chatib.

Menkeu Spesialis Krisis

Chatib Basri sendiri telah tidak asing di pihak pemerintahan. Ia sempat mengemban tanggung jawab sebagai Kepala BKPM (2012-2013) dan Menteri Keuangan (2013-2014).

Saat menjabat sebagai Menkeu itulah Chatib dikenal sebagai spesialis krisis ekonomi. Karena ketika itu, dia ditugaskan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono demi mengangkut Indonesia keluar dari krisis ekonomi Taper Tantrum.

Saat itu Indonesia bersama lima negara berkembang lainnya masuk dalam kelompok negara teramat rentan terperosok dalam krisis akibat Taper Tantrum – gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh rencana bank sentral Amerika Serikat, demi mengurangi program stimulus Quantitative Easing.

Keputusan ini memicu kepanikan investor global yang lalu menarik modal besar-besaran dari negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Adapun Indonesia amat tergantung pada investasi asing demi membiayai transaksi berjalan saat itu dan hingga pada saat ini.

Chatib, bagaikan yang dijelaskannya di X, pada saat itu menjadi salah satu tokoh kunci demi mengangkut Indonesia keluar dari krisis.

“Saat itu rupiah melemah dan kekhawatiran krisis keuangan terjadi. Indonesia dikategorikan masuk ke dalam fragile five. Namun bersama kombinasi pengetatan fiskal, BI menaikkan suku bunga dan expenditure switching policy, Indonesia bersama India sukses keluar dari fragile five dalam waktu tujuh bulan,” terang Chatin.

Salah satu langkah berani Chatib ketika itu merupakan mengurangi subsidi BBM dan memakai anggarannya demi menyerahkan bantuan sosial kepada masyarakat sekitar. Berkat langkah-langkah itu, investasi asing pun kembali ke Indonesia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *