Rupiah Semakin Tak Bernilai, Indonesia Barter Baja dan Bahan Baku Tekstil dengan Filipina

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Pemerintah Indonesia dan Filipina sepakat menjalankan barter di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebutkan sistem barter menjadi salah satu alternatif demi berniaga sembari mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing dalam aktivitas ekspor dan impor.

Dalam kerja sama ini, Indonesia akan mengimpor serat abaka dan bijih besi dari Filipina. Sebagai gantinya, bahan baku tersebut akan dikirim kembali ke Filipina setelah diolah menjadi tekstil dan baja.

Barter dilaksanakan setelah nilai tukar rupiah terus anjlok dan mencapai Rp18.180 per dola AS pada awal pekan ini.

“Ini sistem barter, jadi kita tidak memakai mata uang dolar. Karena nanti masing-masing negara mempunyai agen yang memfasilitasi,” ujar Budi Santoso di Kemendag, Senin (8/6/2026).

Kerja sama tersebut diawali bersama penandatanganan kesepakatan antara tersangka usaha Indonesia dan Filipina yang difasilitasi Keaparatur negara kementerianan Perdagangan.

Pada tahap awal, Indonesia akan mengimpor serat abaka, komoditas yang berasal dari tanaman sejenis pisang. Abaka akan digunakan sebagai bahan baku industri tekstil nasional.

Serat abaka tersebut nantinya akan diolah oleh industri tekstil dalam negeri yang tergabung dalam Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI). Setelah diproses menjadi produk tekstil bernilai tambah, hasil produksinya akan diekspor kembali ke Filipina.

Selanjutnya Indonesia akan mendatangkan bijih besi atau iron ore dari Filipina demi kebutuhan bahan baku industri baja nasional. Selanjutnya, bahan baku tersebut akan diproses oleh industri dalam negeri semasih belum dikirim kembali ke Filipina dalam bentuk baja jadi.

Budi menyebutkan kerja sama barter tersebut merupakan salah satu upaya pihak pemerintah demi mendorong peningkatan ekspor nasional di tengah ketidaktentuan ekonomi global.

Selain itu, skema tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan tersangka usaha terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing dalam transaksi perdagangan internasional.

Dalam kerja sama ini, PT Trade Barter Indonesia (TBI) ditunjuk sebagai agen yang memfasilitasi pertemuan antara eksportir dan importir dari kedua negara.

Perwakilan PT TBI menerangkan barter tidak wajib dilakukan dalam satu rantai industri yang sama. Melalui sistem tersebut, suatu negara dapat menukar komoditas yang dimiliki bersama produk lain yang dibutuhkan melalui mekanisme pencocokan perdagangan yang dilakukan agen.

Karena itu, peluang perdagangan yang dapat dilakukan melalui barter dinilai jauh makin luas dibandingkan cuma pertukaran bahan baku tekstil dan baja.

Budi membeberkan Indonesia semasih belumnya juga telah menjalankan skema barter bersama Mesir. Saat itu Indonesia mengimpor kurma dari Mesir dan mengekspor kopi sebagai barang penggantinya.

“Iya. Jadi barter dapat demi seluruh komoditas. Ini sempat dilakukan juga bersama Mesir. Waktu itu kita impor kurma, kita ekspor kopi,” kata Budi.

Ia mengimbuhkan pada saat ini terdapat sembilan negara yang telah menjalin kerja sama barter bersama Indonesia melalui fasilitasi PT TBI. Beberapa di antaranya yakni Filipina, Mesir, Ghana, Jepang, China dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Ke depan, pihak pemerintah akan terus memperluas penjajakan kerja sama barter demi berbagai komoditas lainnya melalui kegiatan business matching antartersangka usaha.

“Jadi ini salah satu solusi, sebenarnya, ya. Bagaimana pertama kita meningkatkan ekspor kita, dan bagaimana kita bersama barter ini kan tidak tergantung mata uang asing. Ya saya pikir itu tidak membebani ekspor dan impor, ya, tidak membebani eksportir dan importir,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *