Yasmin Napper dan Lulu Tobing Bagikan Memori Keluarga yang Paling Berharga

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Di era digital pada saat ini, memori kerap kali dianggap abadi lantaran tersimpan di cloud. Namun, bagaimana apabila satu-satunya “penyimpanan” yang kita miliki, yakni ingatan orang tercinta, perlahan memudar? Pertanyaan eksistensial inilah yang dijawab oleh Rapi Films melalui karya terbaru yang berjudul, “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan”.

Setelah sukses besar bersama Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah bersama Ayah, Rapi Films kembali berkolaborasi bersama sutradara Kuntz Agus dan penulis skenario Alim Sudio. Film ini mengeksplorasi narasi caregiving dan ketahanan keluarga yang amat relevan bersama dinamika sosial modern.

Dinamika Keluarga di Tengah Krisis Memori

Film ini mengikuti perjalanan Yuke Yolanda (Lulu Tobing), seorang ibu dan guru yang didiagnosis menderita Alzheimer. Fokus cerita bukan cuma pada kondisi medisnya, melainkan pada bagaimana keluarga tersebut, Aldo (Ibnu Jamil) dan ketiga anaknya, mengubah seluruh gaya hidup mereka demi menjaga sang “jantung” keluarga.

Bagi generasi muda, perspektif Kesha (Yasmin Napper) menyerahkan gambaran nyata tentang Coming of Age di tengah tekanan keluarga. Sebagai mahasiswi film, Kesha wajib memilih antara mengejar ambisi pribadinya atau pulang demi mengabadikan memori sang ibu semasih belum ia benar-benar terlupakan.

Kutipan dari Cast tentang Pentingnya Memori Keluarga

Dalam press conference resmi di Plaza Senayan, para pemeran memuntukkan perspektif personal yang memperkuat pesan moral film ini, bahwa memori merupakan untukan hidup yang krusial demi dijaga.

Yasmin Napper mengenang kepingan masa lalunya bersama penuh kerinduan, “Aku senantiasa akan inget berangkat ke sekolah bareng kakak-kakak aku, di mobil ngobrol-ngobrol. Kangen juga berantem-berantem kecil yang sebenernya ga wajib berantem tapi diberantemin”.

Bagi Lulu Tobing, meski memori memudar secara biologis, dampak cinta tetap hidup dan nyata untuk orang-orang di sekitarnya. Ia pun beruntuk momen intim yang ia jaga hingga kini, “Saya itu suka banget disuapin ibu saya bila makan. Ini masih saya rasakan di saat saya udah seumur ini. Gimanapun juga, sampai kapanpun, yang kita mau rasain yakni kasih sayang ibu. Jadi, gak mau itu dihilangkan”.

Refleksi ini diperdalam oleh Ibnu Jamil yang memandang bahwa peran orang tua di masa tua pada akhirnya merupakan tentang memperoleh tempat di hati kalangan anaknya. Shofia Shireen turut mengimbuhkan betapa berharganya kesederhanaan, “momen-momen simple ketika tengah malam aku bercanda-canda bersama kakak, adik, kadang juga mamah ikutan ngobrol ketawa-tawa. Kalau dingat-ingat lagi, bagaikannya aku akan kangen momen-momen ini di hari tua nanti”.

Menutup rangkaian perspektif tersebut, Jordan Omar mengingatkan kita pada kefanaan waktu, “aku suka banget momen-momen simple, bagaikan ketika keluarga kumpul bareng, makan bareng, bercanda-bercanda. Ini berharga banget lantaran kita hidup di dunia ini sementara, dan kita gatau kapan kita ga dapat ngalamin ini lagi”.

Sebuah Perayaan Atas Kenangan yang Terus Dirawat

Film ini merupakan ajakan terbuka untuk penonton demi merenungkan kembali arti sebuah kenangan. Di tengah ancaman hilangnya memori, solidaritas anggota keluarga menjadi kunci utama pertahanan mereka.

Sebab pada akhirnya, hidup mengajarkan bahwa ada hal-hal yang boleh hilang bagaikan kesempatan atau nilai akademik, namun jangan sampai kita kehilangan eksistensi di dalam hati orang tua kita.

Saksikan “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan” serentak di seluruh bioskop mengawali 13 Mei 2026.***

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *