MediaMerdeka.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi mengawali merealisasikan aksi korporasi bersama menjalankan pembelian saham-saham milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pasar modal Indonesia sepanjang pekan ini. Langkah strategis ini langsung direspons positif oleh para tersangka pasar di tengah gejolak sentimen global.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa masuknya dana investasi dari Danantara ke bursa domestik berpotensi besar menjadi katalis penggerak untuk jajaran saham pelat merah.
Sejumlah emiten berkapitalisasi pasar besar bagaikan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), hingga PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan menjadi penerima manfaat utama dari aksi beli ini.
Aksi korporasi ini terbukti efektif dalam meredam tekanan di pasar saham. Hendra menerangkan bahwa masuknya Danantara menjadi salah satu pendorong utama pemulihan indeks. Langkah ini “Yang ikut menopang rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI),” kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).
Masuknya entitas pengelola investasi negara ini diyakini mampu memperbaiki persepsi pasar, mendongkrak tingkat kepercayaan investor domestik maupun asing, serta menyerahkan suntikan permintaan nyata terhadap saham-saham BUMN yang pada saat ini posisinya berada pada tingkat valuasi yang amat menarik.
Meski demikian, para tersangka pasar diimbau demi tetap bersikap rasional dan cermat. Keberlanjutan tren penguatan harga saham pada jangka panjang tidak dapat cuma mengandalkan sentimen pendorong sesaat, melainkan tetap bertumpu pada indikator fundamental masing-masing emiten.
Faktor-faktor utama bagaikan prospek pertumbuhan laba bersih, kesehatan arus kas (cash flow), konsistensi kebijakan pemuntukan dividen, hingga kondisi pasar secara keseluruhan akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga saham di masa depan.
Hendra mengingatkan agar para pemodal tidak terjebak dalam euforia jangka pendek. “Investor perlu membedakan antara kenaikan yang didorong oleh sentimen dan kenaikan yang ditopang oleh perbaikan kinerja bisnis,” imbuh dia.
Aksi akumulasi saham yang diiringi bersama peningkatan kinerja keuangan serta perbaikan tata kelola korporasi (good corporate governance) akan menghasilkan dampak penguatan harga yang makin kokoh dan bertahan lama.
Sebaliknya, apabila penguatan harga cuma ditopang oleh ekspektasi melambung atas kehadiran Danantara, maka harga saham berisiko kembali merasakan koreksi teknis sewaktu-waktu saat minat beli di pasar mengawali mereda.
Portofolio Kepemilikan Aset Strategis Danantara
Berdasarkan data resmi kepemilikan saham yang dirilis oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Juli 2026, Danantara memegang porsi kendali atas sederet aset strategis nasional yang tersebar di berbagai sektor vital perekonomian Indonesia:
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA): Menguasai sesejumlah 370.902.553.959 lembar saham atau setara bersama tingkat kepemilikan 91,11 persen.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA): Mengantongi 35.928.785.753 lembar saham bersama persentase kepemilikan mencapai 90,11 persen.
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS): Memiliki 15.322.346.345 lembar saham atau menguasai porsi sebesar 79,20 persen.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

