MediaMerdeka.com – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengajak masyarakat sekitar menyaksikan tradisi ziarah di Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, secara makin utuh sebagai untukan dari warisan budaya yang telah hidup sejak lama. Menurutnya, praktik tersebut tidak semestinya langsung dikaitkan bersama stigma pesugihan yang belakangan ramai dibahas di media sosial.
Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon menanggapi maraknya konten di berbagai platform digital yang mengaitkan aktivitas ziarah di Gunung Kawi bersama praktik mencari kekayaan secara mistis.
“Gunung Kawi ya, itu kan keberagaman kita di dalam memahami, termasuk apa yang terjadi tidak cuma di Gunung Kawi dan di berbagai tempat. Itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama,” kata Fadli Zon di Jakarta, Senin (7/7/2026).
Menurut Fadli, Indonesia memiliki keragaman tradisi yang berkembang di berbagai daerah. Karena itu, setiap praktik budaya perlu dipahami berdasarkan nilai sejarah dan konteks sosial masyarakat sekitar yang melatarbelakanginya.
Ia menilai tradisi yang masih dijalankan masyarakat sekitar dapat terus dilestarikan selama tidak menimbulkan kerusakan maupun mengganggu ketertiban umum. Bahkan, kegiatan budaya semacam itu juga dapat menyerahkan dampak positif untuk perekonomian masyarakat sekitar setempat melalui sektor wisata budaya.
“Saya kira selama itu dapat menyerahkan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya untuk masyarakat sekitar setempat, dan tidak mengganggu serta tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai realitas kehidupan kita,” ujarnya.
Belakangan, nama Gunung Kawi kembali menjadi perbincangan publik setelah beredar sejumlah konten di media sosial yang mengaitkan lokasi tersebut bersama praktik pesugihan. Narasi tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat sekitar.
Padahal, Pesarean Gunung Kawi merupakan kompleks makam dua tokoh yang dihormati masyarakat sekitar, yakni Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Kiai Zakaria II yang dikenal sebagai Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono.
Kompleks makam yang berada di Kabupaten Malang itu telah lama menjadi tujuan ziarah masyarakat sekitar dari berbagai daerah. Selain demi berdoa, kawasan tersebut juga menjadi pusat kegiatan budaya dan tradisi, terutama saat peringatan 1 Muharam atau 1 Suro.
Pada momen tersebut, masyarakat sekitar biasanya menggelar berbagai rangkaian acara, bagaikan kirab budaya, doa bersama, hingga tradisi tabur bunga di area pesarean. Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan menjadi untukan dari kekayaan budaya lokal yang masih dipertahankan hingga kini.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

