Tulus Abadi Nilai Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi Masih Wajar

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Keputusan pihak pemerintah dan Pertamina tidak menaikkan seluruh harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 September 2026 dinilai memperlihatkan upaya menjaga daya beli masyarakat sekitar di tengah kebutuhan penyesuaian harga energi. Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai penyesuaian terhadap seuntukan BBM nonsubsidi masih wajar sepanjang mengacu pada formula yang berlaku dan dilakukan bersama mempertimbangkan kondisi masyarakat sekitar.

“Transparansi pembentuk harga dan kebijakan harga BBM non subsidi amat penting diketahui publik sebagai pengguna BBM sekaligus sebagai bentuk akuntabilitas. Fenomena bagaikan ini amat penting agar masyarakat sekitar mengerti aspek bisnis proses dan product knowledge terhadap BBM non subsidi. Masyarakat juga wajib mengerti bahwa makin dari 60 persen BBM yang digunakannya merupakan masih diimpor,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Tulus mengakui kondisi makro ekonomi pada saat ini cukup berat untuk kelas menengah. Dia menerangkan secara rinci, kelas menengah tetap akan menyambut baik kenaikan harga BBM non subsidi lantaran pilihannya sulit. Tulus juga mengingatkan adanya potensi efek domino atas kebijakan ini.

“Efek domino ini dapat memicu kelesuan ekonomi. Yang wajib memitigasi hal ini idealnya bukan cuma Pertamina, namun juga pihak pemerintah. Pemerintah wajib mencari skema kebijakan demi menyerahkan insentif untuk kelas menengah, baik skema fiskal maupun non fiskal. Misalnya memperkuat subsidi pada transportasi publik massal, yang ada di Jabodetabek. Sehingga apabila kelas menengah berat bersama pengeluaran BBM-nya demi transportasinya, maka didorong demi migrasi pada angkutan umum massal,” ujarnya.

Pada 1 September 2026 dimengawali pukul 00:00 WIB, Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara harga Pertamax dan Pertamax Green 95 tidak berubah. Harga BBM subsidi Pertalite dan Biosolar juga tetap.

Pertamax Turbo kini Rp19.600 per liter dari Rp18.300, Dexlite Rp23.700 dari Rp19.700, dan Pertamina Dex Rp25.200 dari Rp21.150. Sementara Pertamax tetap Rp15.950 per liter dan Pertamax Green 95 dari Rp16.600 per liter merasakan penyesuaian harga menjadi Rp19.150 pada 2 September 2026.

“Sesuai regulasi harga BBM non subsidi memang domainnya operator, yang merujuk pada harga ICP atau Harga Patokan Minyak Mentah Indonesia yang ditetapkan oleh Keaparatur negara kementerianan ESDM, lalu juga kurs rupiah terhadap dolar Amerika, bahkan inflasi. Itu premis dasarnya,” kata Tulus.

Ketersediaan BBM

Tulus mengingatkan, selain persoalan harga, aspek ketersediaan produk BBM menjadi hal yang teramat penting. Dia juga  mendorong Pertamina demi dapat menjaga keandalan ketersediaan dan pasokan BBM, baik non subsidi maupun subsidi. Hal ini menjadi hak yang teramat mendasar untuk konsumen.

Terkait pengumuman yang mendadak, Tulus menilai hal ini memiliki alasan tertentu. “Pengumuman mendadak atau sejumlah saat semasih belumnya memiliki plus dan minus. Jika diumumkan sejumlah hari semasih belumnya berpotensi terjadi penimbunan, penyalahgunaan. Tetapi yang penting soal basis informasi dan alasan kebijakan itu dilakukan wajib absah dan jernih,” kata dia. ***

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *