RI Swasembada Beras, Mentan Klaim Efeknya Bikin Harga Global Anjlok hingga Petani Asing Demo

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membeberkan sejumlah dampak kebijakan Indonesia yang berhenti impor beras alias swasembada beras pada 2025 lalu.

Mentan yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini mengklaim bila keputusan itu berefek pada menciptakan harga beras global anjlok drastis hingga memicu gelombang protes petani di berbagai negara produsen.

Mulanya ia mengakui bila Indonesia merupakan negara bersama produsen beras nomor empat di dunia sekaligus importir terbesar selama periode 2023-2024 bersama jumlah 7 juta ton. Namun pada 2025, RI memutuskan tak lagi impor beras.

“Karena tidak ada impor, tentu negara-negara eksportir beras dunia, Thailand, Vietnam, India, Pakistan, dan lain-lain, itu petaninya tertekan, bahkan demo. Boleh Anda baca itu petani negara lain demo. Kenapa? Karena kita importir beras terbesar dunia,” ujar Amran dalam konferensi pers Penindakan Impor Ilegal Beras, Garam, dan Balpres di Kantor Bea Cukai, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Amran menerangkan bahwa penghentian impor beras ini tidak lepas dari kesuksesan program swasembada pangan yang di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto.

Ia mengklaim torehan ini sebagai yang tercepat sepanjang sejarah dan telah memperoleh pengakuan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO atau Food and Agriculture Organization) di bawah naungan PBB.

“Alhamdulillah di bawah kepemimpinan Bapak Presiden, Bapak Prabowo, kita diminta swasembada empat tahun tapi kita raih dalam waktu satu tahun. Dan ini merupakan tercepat sepanjang sejarah. Ini bukan cuma saya, lantaran pemimpin kita luar biasa, fokus. Ini diakui oleh dunia, FAO. Ini produksi kita sesuai yang disampaikan oleh FAO,” umbar dia.

Amran melanjutkan, hilangnya pasar Indonesia yang tadinya menyerap hingga 7 juta ton beras berimbas langsung pada jatuhnya harga beras di pasar internasional. Dari yang awalnya seharga 660 Dolar AS menjadi 368 Dolar AS per ton.

“Artinya dari Rp11.000 turun menjadi Rp5.000 di negara lain. Ada lagi yang menyebutkan yang tidak paham beras, ‘Lah negara lain harga beras Rp5.000?’ Iya, lantaran Indonesia tidak impor. Dulu impor harganya Rp11.000 hingga Rp12.000, kini turun 300 (Dolar AS), lantaran Indonesia tidak impor,” paparnya.

Bahkan Amran mengklaim anjloknya harga dan menumpuknya pasokan di negara-negara produsen menciptakan sejumlah pemimpin negara asing membujuk Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia mau kembali membuka keran impor.

Namun, permintaan tersebut ditolak demi menjaga semangat dan kesejahteraan petani dalam negeri.

“Kami sampaikan ke Bapak Presiden, ‘Pak, ini tidak barangkali, lantaran ini melukai petani Indonesia 115 juta orang. Karena petani demotivasi bila kita impor.’,” terangnya.

Lebih lanjut Amran membeberkan, penurunan harga beras global akibat RI setop impor berdampak pada maraknya aksi penyelundupan beras ke Indonesia.

“Ini harga beras menggiurkan. Kalau ekspor 1 juta, selundupkan 1 juta katakanlah lantaran tentu ada yang lolos yang masih belum kelihatan, nah itu Rp 5-6 triliun untungnya. Itu kan amat menggiurkan, lantaran nilainya cuma Rp5.000 di negara lain, Rp5.700 kita hitung. Sehingga Indonesia incaran lantaran pasar terbesar namun tiba-tiba swasembada,” jelas Amran.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *