Mengapa Indonesia Alami Paceklik Beras Premium?

admin
By
admin
5 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Indonesia tengah menyikapi paceklik beras premium. Di satu sisi, pihak pemerintah menyebut stok beras nasional melimpah. Namun di sisi lain, beras premium justru semakin sulit ditemukan di jaringan ritel modern.

Rak-rak beras premium di sejumlah supermarket hingga minimarket mengawali kosong. Pilihan merek menyusut, bahkan seuntukan rak disebut telah dialihfungsikan demi memajang produk lain lantaran stok beras tidak tersedia.

Pengamat pertanian Khudori menyebutkan kondisi tersebut bukan persoalan baru. Kelangkaan beras premium di jaringan ritel modern disebut telah berlangsung sekitar 4-5 bulan di sejumlah daerah.

“Sudah sejumlah hari beras kosong. Karena ada penarikan produk,” kata Khudori, Senin (21/9/2026).

Lantas, mengapa beras premium dapat langka ketika Indonesia disebut memiliki stok beras yang melimpah?

Berasnya Tidak Ada?

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai kelangkaan beras premium di ritel tidak sejalan bersama kondisi stok beras nasional.

Menurutnya, beras masih mudah ditemukan di pasar tradisional bersama harga yang relatif makin rendah. Karena itu, kosongnya beras premium di jaringan ritel perlu ditelusuri makin jauh.

“Jangan sampai ada yang memanfaatkan kondisi ini demi bermain atau berlaku nakal. Padahal, berasnya sama,” ujar Amran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalannya tidak senantiasa terletak pada jumlah beras secara nasional. Beras dapat saja tersedia dalam jumlah besar, namun masih belum tentu seluruh jenis, kualitas, merek, dan jalur distribusinya tersedia secara merata.

Dengan kata lain, surplus beras nasional tidak otomatis berarti rak beras premium di supermarket akan senantiasa penuh.

Jalur Distribusi Jadi Kendala?

Beras yang tercatat sebagai stok nasional melewati rantai perdagangan yang panjang semasih belum sampai ke konsumen.

Ada beras yang berada di Bulog, penggilingan, pedagang, distributor, pasar tradisional hingga jaringan ritel modern. Sementara itu, beras premium memiliki karakteristik berbeda lantaran menyangkut standar mutu, merek, pengemasan, distribusi dan harga jual.

Karena itu, ketika terjadi gangguan pada salah satu mata rantai, beras premium dapat menghilang dari rak ritel meski secara nasional persediaan beras tetap besar.

Khudori menemukan kondisi tersebut secara langsung ketika mengecek sejumlah supermarket. Beras dari berbagai merek, terutama kategori premium, semakin terbatas. Di salah satu gerai, rak yang biasanya digunakan demi beras bahkan telah diisi produk lain.

Di gerai lain, beras yang masih tersedia makin sejumlah berasal dari jenis tertentu, bagaikan beras merah dan beras SPHP kualitas medium dari Bulog.

Ada Penarikan Produk

Salah satu persoalan yang muncul merupakan penarikan produk dari jaringan ritel.

Khudori menyebut beras di salah satu gerai kosong setelah terjadi penarikan produk. Kondisi serupa juga ditemukan di sejumlah gerai lainnya.

Situasi ini berbeda bersama sekadar persoalan stok beras nasional. Ketika produk tertentu ditarik atau pasokannya tidak masuk ke jaringan ritel, konsumen tetap dapat kesulitan menemukan beras premium meski beras secara keseluruhan tersedia.

Kondisi tersebut juga mengingatkan pada persoalan beras tahun lalu ketika produk beras premium sempat menghilang dari sejumlah jaringan ritel setelah muncul isu mengenai dugaan beras oplosan.

Pemerintah Soroti Dugaan Permainan

Amran menyaksikan persoalan kelangkaan beras premium perlu ditelusuri agar tidak dimanfaatkan pihak tertentu demi memainkan pasokan dan harga.

Ia bahkan mengaitkannya bersama dugaan praktik curang dalam tata niaga beras yang semasih belumnya ditemukan pihak pemerintah.

Amran menyebut terdapat produk yang menurut perhitungannya semestinya berada di kisaran Rp13.000 per kilogram, namun dijual hingga Rp57.000 per kilogram.

“Bayangkan, harganya Rp13 ribu, dijual Rp57 ribu. Adil tidak itu?” ujarnya.

Amran juga menyebut dugaan praktik curang pada produk beras fortifikasi yang menurutnya merugikan masyarakat sekitar hingga Rp89 triliun.

Bulog Jadi Andalan

Untuk mengatasi keterbatasan pasokan di ritel modern, pihak pemerintah mengandalkan Bulog.

Bulog menegaskan akan memasok 110.000 ton beras setiap bulan ke jaringan ritel. Jumlah tersebut terdiri atas 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium.

Bulog juga menyiapkan 300.000 ton cadangan beras pihak pemerintah demi diolah menjadi beras premium bersama melibatkan Perpadi. Namun, menurut Khudori, rencana tersebut masih belum memperoleh persetujuan.

Langkah ini memperlihatkan pihak pemerintah tidak cuma berupaya menjaga stok beras nasional, namun juga mengonfirmasi stok tersebut masuk ke kanal distribusi yang dibutuhkan masyarakat sekitar perkotaan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *