MediaMerdeka.com – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi dan hiburan global tampaknya masih belum sepenuhnya mereda. Raksasa layanan streaming asal Amerika Serikat, Netflix, pada saat ini dikabarkan tengah mempersiapkan kebijakan perampingan organisasi berskala besar.
Berdasarkan informasi terbaru yang beredar di pasar, korporasi berlogo ‘N’ merah tersebut berencana menjalankan PHK terhadap sekitar 5 persen dari total pegawainya di seluruh dunia.
Kebijakan restrukturisasi operasional ini diperkirakan akan menyerahkan dampak langsung kepada sekitar 800 tenaga kerja lintas divisi. Mengutip laporan dari kantor berita Reuters yang bersumber dari keterangan pihak-pihak anonim di internal industri, pengumuman resmi terkait gelombang pemangkasan jumlah pegawai ini berpotensi dirilis ke publik teramat cepat pada pekan depan.
Kendati demikian, hingga pada saat ini masih belum ada ketentuan mutlak mengenai rincian waktu pengumuman maupun divisi mana saja yang akan menanggung beban pemangkasan teramat besar.
Menanggapi bergulirnya isu rasionalisasi tenaga kerja tersebut, pihak manajemen pusat Netflix masih memilih demi bungkam. Saat dihubungi demi dimintai konfirmasi, juru bicara Netflix secara tegas menepis menyerahkan komentar apa pun terkait beredarnya laporan rencana pemangkasan pegawai tersebut.
Berdasarkan data operasional korporasi yang tercatat hingga akhir tahun 2025, Netflix memiliki basis tenaga kerja yang cukup masif bersama jumlah sekitar 16.000 pegawai penuh waktu secara global.
Jika rencana pengurangan tenaga kerja sebesar 5 persen tersebut benar-benar dieksekusi oleh pihak manajemen, maka jumlah pegawai yang wajib angkat koper diperkirakan menyentuh angka 800 orang.
Data statistik internal korporasi pada periode Desember 2025 juga mencatat bahwa sekitar 68 persen dari total pekerja Netflix, atau sesejumlah 10.900 orang, berbasis operasional di wilayah Amerika Serikat dan Kanada.
Rencana efisiensi tenaga kerja berskala besar ini mengulang memori kelam yang sempat dialami korporasi sejumlah tahun silam. Kebijakan ini muncul setelah Netflix sempat menjalankan gelombang PHK besar-besaran pada tahun 2022. Pada masa krisis tersebut, korporasi terpaksa memangkas sekitar 450 posisi pekerjaan setelah jumlah pelanggannya secara neto menyusut tajam hingga 200.000 pelanggan pada kuartal pertama 2022.
Penurunan jumlah pelanggan kala itu menjadi pukulan telak lantaran merupakan penyusutan basis pelanggan pertama yang dialami korporasi dalam kurun waktu makin dari satu dekade terakhir.
Sejak badai di tahun 2022 tersebut, Netflix sebenarnya terus menjalankan sejumlah penyesuaian operasional dan pengurangan tenaga kerja, meski dalam skala yang jauh makin kecil. Salah satu langkah efisiensi teranyar terjadi pada awal tahun 2026, di mana korporasi dilaporkan telah melepas puluhan anggota dari tim produk globalnya demi merampingkan struktur organisasi.
Di sisi lain, narasi PHK ini terbilang cukup ironis mengingat kondisi finansial korporasi yang sejatinya tidak sedang dalam fase krisis. Pihak manajemen Netflix secara terbuka menegaskan bahwa korporasi masih terus mencatatkan tren pertumbuhan pendapatan yang positif di pasar global.
Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, saat tampil berbicara dalam ajang konferensi Bloomberg Screentime di Los Angeles bulan lalu, memaparkan bahwa pendapatan korporasi pada periode kuartal kedua 2026 sukses tumbuh hingga dua digit, dan hal itu terjadi secara merata di setiap wilayah geografis operasional mereka.
Meski neraca keuangan memperlihatkan angka yang menggembirakan, Sarandos tidak menampik fakta bahwa jajaran kepemimpinan korporasi masih merasa masih belum puas. Manajemen puncak memiliki ambisi kuat demi memacu dan mempercepat eskalasi pertumbuhan bisnis ke level yang makin agresif di tengah ketatnya persaingan industri streaming hiburan.
“Ya, secara keseluruhan, kami masih belum tumbuh secepat yang saya inginkan, dan kami sedang berupaya mempercepat pertumbuhan tersebut,”
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

