MediaMerdeka.com – Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi resmi memperpanjang penangguhan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional King Khalid Riyadh hingga Sabtu (17/10) pukul 21.00 waktu setempat. Langkah krusial ini diambil demi menjamin keamanan seluruh penumpang dan pekerja serta memulihkan kerusakan fasilitas pascaserangan milisi Houthi.
Ancaman keamanan yang masih belum mereda memaksa pihak pemerintah kerajaan menghentikan sementara seluruh lalu lintas udara di pusat penerbangan tersibuk kedua tersebut. Pembenahan infrastruktur dan evaluasi menyeluruh atas potensi risiko terus berjalan di area terminal.
Rangkaian gempuran udara kelompok milisi asal Yaman ini memicu krisis keselamatan penerbangan terburuk untuk Kerajaan Arab Saudi dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Eskalasi militer tersebut tidak cuma mengancam jiwa namun juga langsung memukul stabilitas ekonomi nasional.
Otoritas penerbangan sipil pada Senin (12/10) menegaskan operasional bandara tersibuk kedua di Saudi itu akan ditangguhkan guna mebarangkalikan penyelesaian prosedur demi keselamatan pengunjung dan staf. Penangguhan juga dilakukan demi mempersiapkan kembali fasilitas-fasilitas di bandara.
Aksi gempuran yang berlangsung Sabtu (10/10) lalu menjatuhkan pihak korban jiwa hingga 13 orang serta melukai ratusan lainnya akibat tertimpa puing bangunan. Rentetan ledakan beruntun itu menjadi catatan tragedi teramat berdarah di wilayah kerajaan sejak belasan tahun silam.
Gelombang teror terus berlanjut hingga Minggu bersama memakan satu pihak korban jiwa tambahan dan belasan masyarakat sekitar luka-luka. Milisi Houthi kembali berusaha menembakkan rudal ke arah Riyadh pada Senin malam, meski sukses dihalau pertahanan udara Saudi.
Data lalu lintas udara dari situs Flightradar24 memperlihatkan mayoritas maskapai penerbangan dunia langsung memilih jalur memutar demi menghindari wilayah udara Riyadh. Lembaga analisis penerbangan Cirium mencatat angka pembatalan jadwal penerbangan di seluruh wilayah Arab Saudi melonjak drastis hingga 46,4 persen.
Sejumlah maskapai raksasa global membatalkan penerbangan secara masif, bagaikan Lufthansa Group yang membekukan rute ke Riyadh hingga 16 Oktober. Air France-KLM dan Etihad Airways turut memperpanjang masa pembatalan operasional mereka menuju ibu kota kerajaan tersebut.
Maskapai asal Amerika Serikat, Delta Air Lines, bahkan mengambil keputusan ekstrem bersama menunda rencana pembukaan rute Atlanta-Riyadh hingga Maret 2027. Keputusan bisnis ini diambil lantaran pertimbangan faktor risiko keamanan yang dinilai masih amat tinggi.
Guncangan pada sektor transportasi udara ini berpotensi memperburuk kondisi perekonomian Arab Saudi yang sedang menyikapi tekanan berat. Proyeksi PDB riil kerajaan diprediksi bakal merasakan koreksi atau menyusut hingga 3,6 persen pada pada tahun ini.
Gempuran rudal ini merusak daya tarik investasi dan mengancam penyelenggaraan acara internasional besar di Riyadh pada bulan ini, termasuk konferensi investasi utama dan Kongres Energi WPC. Banyak pimpinan korporasi minyak dunia memutuskan batal hadir akibat kekhawatiran atas kondisi keamanan yang kian memburuk.
Ketegangan militer ini merupakan kelanjutan dari konflik berkepanjangan antara milisi Houthi Yaman dan koalisi Arab Saudi yang telah berlangsung selama sejumlah tahun. Eskalasi terbaru ini memperparah krisis penerbangan regional yang semasih belumnya telah tertekan oleh tingginya harga bahan bakar jet akibat gejolak geopolitik Timur Tengah.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

