Bukan Cuma Paris, Warga di 4 Negara Kesal dengan Pemerintah karena Beban Biaya Hidup Makin Gila

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Gelombang amarah masyarakat sekitar atas melonjaknya beban hidup dan krisis layanan publik membakar lima negara Eropa pada Sabtu (17/10/2026). Bentrokan sengit antara massa dan aparat keamanan pecah di Perancis, Albania, serta Italia, sementara aksi kolosal juga memenuhi jalanan Portugal dan Belgia.

Sedikitnya 550.000 demonstran memadati jalanan Prancis guna menentang melonjaknya inflasi harian, memburuknya fasilitas publik, dan jurang ketimpangan sosial. Kerusuhan berdarah tersebut memaksa aparat mengamankan minimal 1.200 orang setelah menyebabkan 150 pihak kepolisian merasakan luka-luka.

Eskalasi serupa melanda Albania ketika gelombang protes anti-pihak pemerintah memasuki hari kelima di Kota Tirana. Kerumunan massa secara tegas menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama dari jabatannya.

Kekecewaan mendalam atas buruknya mutu sekolah dan harga kebutuhan pokok menjadi pemantik utama meluasnya amuk massa di Prancis. Aksi yang awalnya berlangsung damai di Paris mendadak berubah menjadi medan pertempuran saat malam tiba.

Dikutip dari BBC, massa bertopeng mengawali membakar barisan kendaraan dan barikade jalanan di pusat kota, termasuk area ikonik Place de la Republique. Aksi penjarahan toko tak terelakkan, bahkan sebuah restoran hangus terbakar di tengah tembakan gas air mata dan semprotan meriam air.

Aparat antihuru-hara terlihat melayangkan pukulan tongkat ke arah kerumunan demi memecah konsentrasi massa. Kebakaran hebat akibat amuk massa juga menghancurkan atap balai kota Limoges dan meratakan kantor pariwisata bersejarah di Lyon.

Wali Kota Lyon Gregory Doucet menyebut tragedi pembakaran kantor pariwisata sebagai pukulan berat untuk warisan sejarah kota. Sementara itu, insiden ledakan bahan peledak kecil di Saint-Etienne mengakibatkan seorang pemuda wajib kehilangan tangannya.

Keaparatur negara kementerianan Dalam Negeri Prancis mencatat aksi pengrusakan terorganisir meluas hingga Marseille, Rennes, Toulouse, Angers, Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, dan Valence. Pemerintah merekam kerugian material yang amat besar di berbagai wilayah tersebut.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengonfirmasi jatuhnya pihak korban dari pihak keamanan.

Kerusuhan masif ini berawal dari aksi mogok para siswa SMA yang memprotes krisis tenaga pengajar dan hancurnya fasilitas belajar. Ratusan ribu pelajar turun ke jalan selama sejumlah pekan semasih belum akhirnya didukung penuh oleh serikat pekerja dan gerakan rompi kuning.

Upaya meredakan amarah masyarakat sekitar sebenarnya telah dilakukan oleh aparatur negara pihak pemerintah seminggu semasih belum kerusuhan pecah. Menteri Pendidikan Edouard Geffray, dalam wawancara televisi pada 8 Oktober, menjanapabilan tambahan 3.000 guru pengganti.

Namun, janji manis pihak pemerintah tidak berhasil menghentikan eskalasi demonstrasi yang justru menjalar semakin ganas. Protes meluas menjadi gerakan sosial berskala nasional yang menuntut perombakan total kebijakan ekonomi dan pendidikan.

Di Albania, prasangka korupsi sistematis, tingginya angka pengangguran, dan merosotnya mutu pendidikan memicu tuntutan lengsernya Perdana Menteri Edi Rama. Massa melancarkan serangan memakai batu, bom molotov, suar, dan kembang api ke arah barisan pihak kepolisian.

Petugas membalas lemparan tersebut memakai tembakan gas air mata, semprotan air, serta sabetan pentungan. Kepihak kepolisianan bahkan nekat melepaskan peluru karet demi memukul mundur massa pengunjuk rasa.

Aksi pembakaran menghancurkan kendaraan serta gedung vital bagaikan Mahkamah Agung, kantor bank, dan kantor pos. Amuk massa juga meluas hingga wilayah pesisir Durres bersama aksi pemblokiran jalan memakai barikade api.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *