Menjelang Magrib 2: Kala Medis Berhadapan dengan Ritual Keji di Desa Terpencil, Malam Ini di ANTV

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Setelah sukses  lewat prekuelnya yang mengangkat isu sensitif pasung dan mitos lokal, sutradara Helfi Kardit kembali mengangkut kengerian yang makin intens melalui sekuel terbarunya, Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai.

Dirilis pada 4 September 2025, film ini menjanapabilan perpaduan antara horor psikologis, kritik sosial, dan kearifan lokal yang mencekam.

Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai akan tayang pada Kamis (28/5/2026) malam ini pukul 21.30 WIB di ANTV. Berikut kami saapabilan review-nya.

Film ini mengambil setting pada tahun 1920-an, di mana Indonesia masih dijajah Belanda.

Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai bercerita tentang dokter muda bernama Giandra (Aditya Zoni). Suatu hari, Giandra membaca berita di koran Javasche Courant.

Berita itu mengisahkan seorang gadis bernama Layla (Aisha Kastolan) yang dipasung di desa terpencil Karuhun.

Layla dianggap gila, makanya ia dirantai sebagai ‘obat’. Tapi sebagai dokter, Giandra tidak setuju. Menurutnya, gangguan jiwa wajib diobati bersama ilmu kedokteran, bukan cara-cara mistis.

Karena penasaran, Giandra nekat datang ke Desa Karuhun. Di sana, ia bertemu Rikke (Aurelia Lourdes), jurnalis yang menulis berita itu. Rikke cuma bilang tiga kata misterius: kultur, mistik, dan tahayul

Meski bingung, Giandra tetap berusaha menolong Layla bersama ilmu dokternya. Tapi, masyarakat sekitar desa menepis keras. Mereka percaya Layla cuma dapat sembuh lewat ritual adat.

Di sinilah konflik memanas. Giandra tidak cuma melawan penyakit Layla, tapi juga kepercayaan masyarakat sekitar yang telah mendarah daging.

“Penonton akan diajak merasakan langsung kengerian kisah dua wanita yang dipasung dan tak dapat lari. Film ini bukan sekadar tontonan, namun pengalaman menegangkan,” kata sutradara Helfi Kardit kepada wartawan saat acara gala premier.

Kehadiran aktris senior Muthia Datau sebagai Nenek Layla sekaligus tetua desa menyerahkan bobot emosional dan ketegangan tersendiri, memerankan sosok yang memegang kunci antara tradisi dan logika.

Satu hal yang menonjol dari sekuel ini merupakan keberaniannya demi tetap setia pada jalur “Horor Folklor Sosio-Kultural”.

Aditya Zoni tampil meyakinkan sebagai protagonis yang skeptis namun rapuh.

Namun, sorotan utama patut diberikan kepada Aisha Kastalon. Perannya sebagai wanita yang dirantai menuntut akting fisik yang luar biasa; tatapan matanya mampu menyalurkan rasa sakit sekaligus ancaman tanpa perlu sejumlah dialog.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *