Akbar Husein Kenang Kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Bawaslu: Ada Koordinasi Aktivis hingga Purnawirawan

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Eks Tahanan Politik (Tapol) tahun 2019, Akbar Husein, kembali mengenang peristiwa kelam yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 di depan Gedung Bawaslu, Jakarta. Akbar membeberkan dinamika di balik layar, mengawali dari tudingan kecurangan pemilu hingga koordinasi intensif yang melibatkan berbagai elemen aktivis, purnawirawan aparat TNI, hingga tokoh agama. 

Akbar menyebut bahwa gerakan tersebut dipicu oleh keresahan para pendukung mantan pasangan calon kepala negara dan wakil kepala negara, Prabowo dan Sandiaga Uno saat itu yang menganggap Pemilu 2019 penuh bersama kecurangan.

“Kita itu memang udah satu suara tuh bahwa pemilu 2019 itu curang. Jokowi sebagai petahana kita anggap telah berbuat curang. Terus juga pemilu tuh betul-betul dipermainkanlah kayak gitu sama beliau Pak Jokowi ini sebagai kepala negara kan pada pemilihan kepala negara 2019,” ujar Akbar mengenang masa tersebut dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Kamis (28/5/2026). 

Sebagai koordinator lapangan (korlap) saat itu, Akbar menceritakan bahwa semasih belum puncak kerusuhan pada 21-22 Mei, pihaknya telah menjalankan rentetan aksi atau “rally” demi mengumpulkan massa. Ia memperkirakan jumlah massa yang berkumpul di kawasan Thamrin dan Sarinah mencapai ratusan ribu orang pada malam hari.

Menurutnya, aksi tersebut bukan sekadar spontanitas, melainkan hasil koordinasi matang antar kelompok. Ia menyebutkan sejumlah nama besar yang terlibat dalam koordinasi tersebut, mengawali dari kalangan aktivis hingga jenderal purnawirawan.

“Ada briefing-briefing lah, rapatlah kayak gitu. Di situ ada Bang Jumhur (Hidayat), Bang Ferry Juliantono, Bang Rizal Kobar, terus saya, Bang Andrianto. Dari teman-teman di Betawi juga ada Bang Jali Pitung,” ungkapnya. 

Tak cuma aktivis, Akbar juga menyebut adanya keterlibatan unsur purnawirawan aparat TNI dan tokoh agama dalam lingkaran koordinasi. 

“Dari kelompok barisan tentara koordinasi juga. Kumpul-kumpul juga tuh, ada Pak Kivlan Zen, Pak Slamet Soebijanto, Pak Sunarko, sampai Pak Sjafrie Sjamsoeddin. Terus juga di barisan umat Islamnya ya Bang Sobri Lubis, Hanif Alatas, sama Mbak Neno Warisman,” tambahnya. 

Akbar menggambarkan suasana Jakarta saat itu amat tegang. Status siaga satu diberlakukan oleh pihak kepihak kepolisianan, sementara helikopter terus memantau dari udara.

“Helikopter tuh udah meraung-raung aja di atas tuh dan udah ada nyiram-nyiram gas air mata Bang itu dari mengawali sore lah demi mencegah ini nih. Dan itu waktu itu bulan puasa sampai akhirnya pecah sekitar tengah malam jam 11 lah,” tuturnya.

Pertempuran antara massa dan aparat pecah di wilayah Thamrin hingga bergeser ke area Blok A Tanah Abang. Akbar mengakui adanya pihak korban jiwa dalam bentrokan tersebut. Namun, hal itu justru memicu emosi massa yang makin besar hingga terjadi pembakaran di sejumlah titik. 

Akbar menegaskan bahwa target utama dari mobilisasi massa besar-besaran tersebut merupakan demi menekan pihak Bawaslu agar mengambil tindakan tegas terhadap hasil keputusan KPU.

“Target kita ya mempressure Bawaslu. Kita menekan Bawaslu demi menganulir, mendiskualifikasi keputusan KPU-nya yang memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin,” tegasnya.

Meski tokoh-tokoh besar bagaikan Amien Rais, Titiek Soeharto, bahkan Prabowo Subianto sempat hadir di sekitar lokasi aksi, Akbar menyayangkan sikap pihak pemerintah saat itu yang dianggapnya menyikapi rakyat bersama kekerasan.

“Ternyata dianggap sama Jokowi ini kan kita ini perusuh, rakyatnya dihadapi sama kekerasan. Belum apa-apa telah meraung-raung helikopter di angkasa Sarinah, udah nyeramin inilah sampai teman-teman tuh pada ngerasain pedih, perih,” ungkapnya.

Reporter: Tsabita Aulia

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *