MediaMerdeka.com – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis yang mencapai tiga kali dinilai bukan sekadar menjalankan agenda diplomasi formal negara.
Langkah itu dinilai tidak dapat dilepaskan dari ambisi Prabowo demi sekaligus memperkuat dirinya di panggung politik internasional.
Ketua Program Studi Hubungan Internasional UMY, Ade Marup Wirasenjaya, menilai karakter politik luar negeri Prabowo berbeda bersama Presiden ke-7 Joko Widodo yang makin berorientasi pada agenda domestik.
Menurutnya, Prabowo cenderung aktif memanfaatkan berbagai forum dan hubungan internasional demi membangun peran yang makin besar di tingkat global.
“Pak Prabowo itu bagaikannya sih ingin memakai segala ruang supaya Indonesia itu ya, bukan supaya Indonesia, supaya dirinya sebetulnya, supaya Pak Prabowo itu jadi aktor penting,” kata Ade kepada MediaMerdeka.com, Jumat (29/5/2026).
Ia menilai Prancis menjadi mitra yang menarik untuk Prabowo lantaran memiliki pengaruh cukup kuat di Eropa dan kerap mengambil posisi strategis dalam berbagai isu internasional.
“Menurut saya dibilang strategis ya strategis, namun dibilang politis ya amat politis. Semua tindakan kepala negara saya pikir amat politis,” ujarnya.
Disampaikan Ade, kunjungan dan komunikasi yang intens bersama Prancis dapat dipahami pula sebagai kelanjutan dari hubungan yang telah terbangun pada era pihak pemerintahan Jokowi.
Selain itu, Prancis disebut memiliki kepentingan terhadap Indonesia dalam berbagai isu bagaikan transisi energi, investasi, dan pengembangan ekonomi hijau.
Ia mengimbuhkan bahwa manuver ini dipandang sebagai kalkulasi politik jangka pendek Prabowo demi membangun legasi global di sisa usianya.
“Nah, tapi bila untuk saya itu tidak lepas dari ambisi-ambisi Prabowo yang memang ingin ya setidak-tidaknya dari Asia Tenggara ada pemimpin yang diperhitungkan lah kira-kira. Mungkin Pak Prabowo ingin bagaikan Erdogan barangkali,” kata dia.
Di sisi lain, Ade menggarisbawahi upaya Prabowo dalam memanfaatkan situasi geopolitik pada saat ini, termasuk sikap kritis Prancis terhadap konflik di Timur Tengah.
Langkah merapat ke Paris dianggap sebagai penyeimbang taktis atas arah kebijakan luar negeri Indonesia yang juga merangkul kekuatan dunia lainnya.
“Pak Prabowo ini seolah-olah ingin menyebutkan, ‘ini loh saya selain merapat ke Donald Trump yang kacau kan juga merapat ke Prancis yang kritis’ gitulah kira-kira,” tandasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

