MediaMerdeka.com – President Director PT Trinseo Materials Indonesia sekaligus Environment and Sustainability Director Responsible Care Indonesia (RCI) Hanggara Sukandar menyebutkan kenaikan harga plastik dan polystyrene hingga makin dari 50 persen dalam sejumlah minggu terakhir memperlihatkan tingginya ketergantungan masyarakat sekitar dan industri terhadap material tersebut di berbagai sektor.
“Yang menarik, ketika harga plastik dan polystyrene naik, ini langsung menjadi perhatian sejumlah pihak. Artinya material ini memang masih digunakan dan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas industri,” ujar Hanggara dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (28/52026), dikutip via Antara.
Ia menerangkan kenaikan harga plastik dan polystyrene dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, termasuk terganggunya distribusi minyak dan nafta dari Timur Tengah akibat konflik geopolitik serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS.
Menurut dia, gangguan pasokan menciptakan korporasi petrokimia wajib mencari bahan baku dari wilayah lain bagaikan Amerika Serikat bersama harga makin mahal dan waktu pengiriman makin panjang.
“Kondisi tersebut berkontribusi terhadap kenaikan harga bahan baku plastik yang bahkan di sejumlah sektor telah meningkat makin dari 50 persen,” katanya.
Ia menilai perhatian besar terhadap kenaikan harga tersebut memperlihatkan plastik dan polystyrene masih menjadi untukan penting dalam aktivitas industri makanan dan minuman, kemasan, logistik, elektronik, otomotif, hingga kebutuhan rumah tangga.
Khusus demi polystyrene, Hanggara menyebutkan material tersebut masih sulit digantikan sepenuhnya lantaran memiliki karakteristik sebagai insulator panas dan dingin, ringan, tahan air, ekonomis, serta memiliki performa baik dalam kondisi dingin.
Meski demikian, ia menilai diskusi mengenai plastik dan sustainability perlu dilakukan secara makin objektif dan berbasis ilmiah.
“Persoalannya tidak sesederhana cuma menyalahkan material tertentu, namun juga bagaimana perilaku penggunaan dan sistem pengelolaannya,” ujarnya.
Menurut Hanggara, pendekatan bagaikan Material Flow Analysis dan Life Cycle Analysis diperlukan demi menyaksikan potensi material masuk kembali ke rantai daur ulang guna menciptakan circular economy.
“Kita wajib menyaksikan bagaimana material dapat kembali ke daur ulang demi menciptakan circular economy, termasuk menyaksikan energy consumption, carbon footprint, dan kemampuan material demi didaur ulang secara berkelanjutan,” katanya.
Ia mengimbuhkan teknologi daur ulang sebenarnya telah tersedia, namun tantangan terbesar masih berada pada pengumpulan dan pemilahan sampah agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Hanggara juga mendorong edukasi penggunaan plastik secara makin bijak, pengurangan penggunaan yang tidak perlu, serta penguatan budaya pemilahan dan daur ulang sampah di masyarakat sekitar.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

