MediaMerdeka.com – Penguatan industri bahan baku domestik menjadi kunci demi menjaga daya tahan industri manufaktur nasional di tengah meningkatnya biaya impor bahan baku yang antara lain didikarenakankan oleh ambruknya nilai tukar rupiah.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menyebutkan tekanan terhadap industri manufaktur mengawali terlihat sejak Maret 2026 setelah semasih belumnya aktivitas industri masih relatif kuat pada Januari-Februari.
“Kalau kita menyaksikan secara triwulan I secara keseluruhan agregat masih positif, masih 5 persen,” kata Faisal di Jakarta, Jumat (19/5/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) semasih belumnya mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Faisal juga menyebut Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat mencapai level 53,8 pada Februari 2026, namun turun ke level 49,1 pada April 2026 atau kembali masuk zona kontraksi.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi tekanan geopolitik yang mengawali memengaruhi manufaktur melalui kenaikan biaya bahan baku, logistik, dan asuransi, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Biaya produksi meningkat lantaran faktor perang, meningkatkan biaya perolehan bahan baku dan logistik,” ujarnya.
Berdasarkan kajian CORE Insight, sekitar 70 persen impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan komponen industri berakibat pelemahan rupiah serta gangguan rantai pasok global cepat berdampak pada biaya produksi domestik.
Selain itu, CORE menyebut sekitar 85 persen bahan baku farmasi nasional masih bergantung pada impor, terutama dari India dan China.
Menurut Faisal, kondisi tersebut perlu menjadi momentum demi memperkuat struktur industri domestik agar manufaktur nasional makin tahan terhadap tekanan eksternal.
Ia menilai sektor yang perlu diperkuat antara lain petrokimia berbasis nafta, tekstil dan produk tekstil, serta besi dan baja.
Ia menerangkan bahwa petrokimia berbasis nafta penting diperkuat lantaran menjadi bahan baku utama industri tekstil dan plastik, sementara itu industri besi dan baja dibutuhkan demi menopang rantai pasok manufaktur dan konstruksi domestik.
Adapun industri tekstil dan produk tekstil dinilai strategis lantaran menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19 persen dari total tenaga kerja manufaktur nasional.
“Pemerintah perlu menyerahkan ruang demi industri manufaktur bergerak makin baik dan meringankan beban daripada peningkatan biaya produksi serta menjaga akses pasar domestik,” ungkap Faisal.
CORE mengusulkan dukungan kebijakan berupa relaksasi bea masuk bahan baku strategis, percepatan restitusi pajak, dan subsidi input untuk industri yang sehat namun tertekan biaya.
Sejalan bersama itu, pihak pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri nasional melalui kebijakan hilirisasi dan pengembangan industri bahan baku domestik, termasuk pada sektor petrokimia dan baja demi memperkuat rantai pasok industri nasional.
Pemerintah juga menargetkan investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp3.800 triliun demi sejumlah komoditas prioritas guna memperkuat rantai pasok industri nasional dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

