MediaMerdeka.com – Pemerintah Amerika Serikat memproses penjualan senjata besar-besaran berupa 40.000 unit bom berdaya ledak tinggi seberat 907 kilogram senilai 2,8 miliar dolar AS (Rp 49,6 triliun) demi Israel. Langkah ini langsung memicu penentangan keras dari anggota Kongres serta para pengamat politik internasional.
Pengadaan amunisi pemungkas tersebut didanai penuh melalui skema Pembiayaan Militer Luar Negeri dari kas negara Amerika Serikat. Paket hibah ini mencakup bom jenis MK-84, varian pelapis termal BLU-117, hingga hulu ledak penembus struktur bawah tanah I-2000 Penetrator.
Pengiriman puluhan ribu amunisi penghancur ini dinilai menyerahkan dorongan kekuatan militer tanpa syarat di tengah eskalasi konflik kawasan yang berlarut-larut. Nilai transaksi tersebut tercatat sebagai angka penjualan senjata jenis amunisi berat terbesar untuk Israel dalam sejumlah tahun terakhir.
Daya rusak bom MK-84 dikenal amat masif hingga mampu meratakan bangunan bertingkat serta menyebarkan pecahan besi hingga ratusan meter. Penggunaan amunisi seberat 2.000 pound ini kerap menyisakan kawah sedalam belasan meter di titik ledakan.
Komentator konservatif Tucker Carlson merinci bahaya amunisi tersebut melalui akun X miliknya.
“Mark 84 buatan Amerika memiliki radius kehancuran setengah mil,” tulis Tucker Carlson di X, mengutip seorang aparatur negara federal yang tidak disebutkan namanya, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (17/9/2026).
“Bom ini melepaskan gelombang panas setara suhu permukaan matahari … Bom ini meruntuhkan gedung-gedung apartemen dan meninggalkan kawah sedalam tiga puluh lima kaki.”
Informasi rencana penjualan senjata ini telah disampaikan secara informal kepada komite eksekutif Kongres Amerika Serikat. Langkah pihak pemerintah ini langsung memicu upaya pemblokiran dari legislatif yang memiliki kewenangan peninjauan.
Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Amerika Serikat menepis menyerahkan rincian lengkap mengenai status transaksi tersebut.
seorang aparatur negara senior administrasi cuma menyebutkan bahwa “seluruh penjualan senjata ke luar negeri bergerak melalui proses yang sesuai,” sementara Departemen Luar Negeri menegaskan tidak mengomentari usulan penjualan semasih belum pemberitahuan resmi ke Kongres.
Senator Amerika Serikat Chris Van Hollen menegaskan komitmennya demi menghentikan pengesahan paket bantuan amunisi tersebut secara hukum. Ia menuding pihak pemerintah telah menyalahgunakan uang pajak masyarakat sekitar demi mendukung aksi kejahatan perang.
Senator Chris Van Hollen menuduh Trump “mengirimkan bom yang dibayar oleh pembayar pajak Amerika kepada pihak pemerintah yang dipimpin oleh seorang penjahat perang yang dicari.”
Perwakilan Gregory Meeks dari Partai Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR menepis memberi lampu hijau terhadap skema transaksi amunisi tersebut. Penolakan dari komite DPR ini secara otomatis menahan laju proses penjualan pada tahap peninjauan informal.
“Pemerintahan Trump masih belum menyerahkan jaminan yang cukup bahwa senjata-senjata ini akan digunakan oleh pihak pemerintah Netanyahu sesuai bersama hukum dan bersama perlindungan yang memadai untuk masyarakat sekitar sipil. Oleh lantaran itu, saya tidak akan meloloskan penjualan ini pada saat ini,” kata Gregory Meeks dalam pernyataan resmi komite di platform X.
“tidak mengurangi dukungan Kongres terhadap kebutuhan pertahanan sah Israel namun mencerminkan tanggung jawab Kongres demi mengonfirmasi bahwa senjata yang didanai AS digunakan secara sah, bertanggung jawab, dan bersama perlindungan yang bermakna untuk kehidupan manusia,” tambah Gregory Meeks.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

