MediaMerdeka.com – Media internasional menyinggung soal lemahnya aturan keselamatan transportasi laut. Sehingga menyebabkan kecelakaan berulang di perairan Indonesia. Terakhir, kapal Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo. Pencarian ratusan pihak korban hilang kini melibatkan drone bawah laut dan penyelam khusus.
Kantor berita asa Prancis, AFP menuliskan dalam laporannya apabila Indonesia merupakan negara kepulauan besar yang amat menggantungkan sarana transportasi antarpulau pada armada kapal feri. Namun, kecelakaan laut masih kerap berulang akibat lemahnya penegakan standar keselamatan armada dan pelayaran.
Peristiwa tenggelamnya armada Virgo Transport 8 menjadi catatan kelam terbaru dalam industri transportasi laut nasional. Pemerintah kini didesak demi memperketat pengawasan kelaikan jalan kapal demi mencegah tragedi serupa terulang kembali.
“Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari makin dari 17.000 pulau, di mana kapal feri merupakan sarana transportasi yang umum digunakan. Bencana kerap kali terjadi, seuntukan didikarenakankan oleh lemahnya penegakan standar keselamatan,” tulis media itu.
Khusus peristiwa tenggelamnya kapal Motor Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo, sesejumlah 129 penumpang masih dinyatakan hilang, sementara enam orang ditemukan meninggal dunia hingga Senin ini.
Sesejumlah 622 personel gabungan dari aparat TNI, Polri, dan instansi terkait dikerahkan bersama 17 unit kapal serta pesawat udara.
Tim SAR mengonsentrasikan titik pencarian di wilayah perairan yang berjarak sekitar 148 kilometer dari Banjarmasin.
Pihak berwenang optimistis dapat menemukan pihak korban selamat di tengah cuaca ekstrem dan lautan yang berombak.
“Kami tetap menginginkan dapat menemukan makin sejumlah pihak korban selamat,” ujar Mohammad Syafii, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dalam pengarahan video.
Upaya penyelamatan semasih belumnya telah sukses mengevakuasi 108 penumpang selamat bersama bantuan kapal tunda dan armada yang melintas di lokasi.
Nakhoda sempat mengirimkan sinyal bahaya semasih belum komunikasi terputus total pada Minggu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
Gelombang setinggi tiga meter menciptakan kapal bermuatan ratusan orang dan 89 kendaraan tersebut miring hingga akhirnya terbalik.
Data resmi mencatat kapal mengangkut 243 orang yang terdiri dari 213 penumpang serta 30 anak buah kapal.
Meskipun demikian, jumlah riil pihak korban di lapangan berpotensi berbeda akibat praktik ketidaksesuaian manifest yang masih kerap terjadi.
Keluarga penumpang kini berkumpul di posko darurat Pelabuhan Trisakti Banjarmasin dan Pelabuhan Surabaya demi menanti ketentuan nasib kerabat mereka.
Isi tangis dan ketegangan mewarnai pusat informasi pelabuhan seiring berjalannya proses evakuasi yang terus dipacu.
Kapal buatan Jepang tahun 1987 sepanjang 119 meter ini baru saja dibeli dan dioperasikan di Indonesia sejak tahun lalu.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

