MediaMerdeka.com – Singapura mencatat penurunan kualitas udara hingga menembus level tidak sehat di seluruh wilayahnya pada Selasa pagi (15/9/2026) sejak 7 tahun terakhir. Lonjakan polusi udara ini dipicu oleh sebaran kebakaran hutan dan lahan yang terus membesar di wilayah Kalimantan, Indonesia.
Pergerakan angin mengangkut asap tebal melintasi wilayah perbatasan dan menyelimuti pusat pemukiman serta bisnis di negara tetangga tersebut. Fenomena alam ini menghentikan tren udara bersih yang sempat bertahan cukup lama di wilayah semenanjung.
Gumpalan asap bersama intensitas sedang hingga pekat melayang memasuki ruang udara Singapura akibat dorongan angin timur laut. Dampak paparan polutan kini dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar di berbagai pelosok kota.
Titik panas yang membakar vegetasi di Kalimantan memicu penurunan drastis pada efisiensi jarak pandang ruang publik. Kondisi lingkungan yang memburuk menciptakan otoritas terkait dalam waktu dekat mengaktifkan status kewaspadaan kesehatan masyarakat sekitar secara menyeluruh.
Lonjakan paparan partikel berbahaya ini menjadi catatan terburuk dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Tingkat pencemaran udara kini telah melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan demi aktivitas luar ruangan.
Pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa kepulan asap dari Kalimantan menjadi faktor utama pemburukan kondisi atmosfer pada saat ini.
“Kondisi kering yang diperkirakan terjadi dan angin yang cenderung berhembus dari tenggara ke timur-tenggara, kabut asap kebarangkalian akan terus memengaruhi Singapura,” kata National Environment Agency, dikutip dari CNA.
Angka pemantauan memperlihatkan bahwa wilayah untukan tengah merasakan penurunan kualitas udara yang teramat parah dibanding area lain. Pada satu titik pemantauan, indikator pencemaran udara di kawasan tersebut sempat menyentuh angka 154.
Hingga pukul 11.00 waktu setempat, indeks standar pencemaran udara atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah tengah bertahan di level 143. Sementara itu, wilayah barat mencatat skala 121 dan wilayah timur berada pada tingkat 119.
Area untukan selatan mengular di angka 103, yang menandakan bahwa hampir seluruh zona pemukiman telah terkontaminasi kabut tebal. Hanya wilayah utara yang sempat memperlihatkan penurunan ke level moderat di angka 99 setelah semasih belumnya menembus zona berbahaya.
Kondisi cuaca kering yang memicu kemunculan titik api diprediksi masih akan bertahan dalam sejumlah hari ke depan. Pola arah angin yang konsisten berpotensi memperpanjang durasi ancaman krisis udara bersih ini.
Ancaman kabut asap akibat pembakaran lahan di Indonesia merupakan isu lingkungan musiman yang terus berulang di kawasan Asia Tenggara. Kebakaran hutan berskala besar kerap memicu ketegangan diplomatik dan gangguan kesehatan publik lintas negara.
Singapura terakhir kali menyikapi krisis kualitas udara parah serupa pada kurun waktu sejumlah tahun lalu. Peristiwa berulang ini kembali mendorong pentingnya mitigasi titik panas secara terpadu di sumber kebakaran.
Pengawasan ketat terhadap pergerakan asap dan angka PSI terus dilakukan secara berkesinambungan sepanjang hari. Warga diimbau demi mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan guna meminimalkan risiko gangguan pernapasan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

