Houthi Rebut Pelabuhan Strategis Mocha Hingga Kuasai Jalur Selat Bab el-Mandeb

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kelompok Houthi sukses merebut kota pelabuhan Mocha di Yaman serta memperluas pendudukan ke pulau-pulau strategis di Laut Merah, Jumat pada hari ini. Pergerakan militer ini langsung memperkuat cengkeraman faksi penyokong Iran tersebut atas Selat Bab el-Mandeb yang menjadi urat nadi pelayaran internasional.

Langkah ofensif ini terjadi cuma sejumlah jam setelah eskalasi konflik memicu kekhawatiran global atas keselamatan jalur pasokan energi dunia. Penguasaan wilayah pesisir baru ini semakin memperbesar ancaman langsung terhadap lalu lintas kapal tanker minyak Arab Saudi.

Imbas eskalasi militer di wilayah pesisir Yaman tersebut, harga minyak mentah jenis Brent meroket hingga 4 persen melampaui 105 dolar AS per barel. Dampak lanjutan juga memicu lonjakan harga BBM nonsubsid jenis diesel di Amerika Serikat hingga menembus angka 6 dolar AS per galon demi pertama kalinya.

Eskalasi pertempuran darat dan laut ini memicu respons diplomatik darurat di tingkat regional demi meredam potensi krisis yang makin luas. Dikutip dari CNA, Pemerintah Arab Saudi mengirimkan peringatan keras kepada Iran melalui perantara diplomatik Pakistan agar dalam waktu dekat menghentikan aksi militer Houthi.

Namun, pihak Teheran menepis bertanggung jawab atas manuver armada bersenjata Yaman tersebut di kawasan Laut Merah.

Ketegangan di wilayah barat daya Arab Saudi ikut meningkat tajam menyusul rentetan serangan balasan dari kelompok Houthi. Otoritas pertahanan sipil di Kota Khamis Mushait bahkan terpaksa mengeluarkan peringatan bahaya darurat sesejumlah empat kali dalam kurun waktu 24 jam.

Di sisi lain, tekanan krisis energi global dan kenaikan harga bahan bakar turut memukul tingkat kepopuleran Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga menyentuh rekor terendah. Kondisi ekonomi yang memburuk akibat konflik Teluk menjadi isu sensitif menjelang pemilu sela Kongres AS.

Donald Trump menuduh Teheran sengaja memanfaatkan konflik pelayaran dan lonjakan harga energi demi memengaruhi konstelasi politik dalam negeri AS. Trump menyampaikan optimisme bahwa perang akan dalam waktu dekat berakhir begitu proses pemungutan suara berakhir.

Pernyataan tersebut menambah panjang daftar tenggat waktu penghentian perang yang semasih belumnya sempat diutarakan oleh pihak Gedung Putih. Meski Washington sempat mengklaim sukses mengawal kapal-kapal tanker melewati Selat Hormuz, data lalu lintas maritim terbaru justru memperlihatkan penurunan drastis jumlah pelayaran.

Konflik terbuka di kawasan ini meluas secara signifikan sejak kelompok Houthi melancarkan serangan awal ke wilayah Israel pada Maret lalu. Faksi bersenjata Yaman tersebut lalu secara resmi mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi pada Juli dan terus meningkatkan intensitas Serangan serangga sepanjang pada bulan ini.

Di saat yang sama, Keaparatur negara kementerianan Keuangan Amerika Serikat meluncurkan “Operation Economic Outcast” bersama menjatuhkan sanksi baru terhadap jaringan korporasi penyokong dana perang Iran. Gelombang konfrontasi antara AS dan Iran ini menjadi aksi saling balas terbesarnya terhadap jalur pelayaran Teluk sejak pertempuran pecah pada akhir Februari.

Media pihak pemerintah Iran menginformasikan bahwa Angkatan Laut Garda Revolusi Iran telah menghantam kapal nirawak milik Amerika Serikat di mulut Selat Hormuz. Pertempuran di jalur maritim utama ini diprediksi akan terus membahayakan stabilitas pasokan energi global selama masih belum ada kesepakatan gencatan senjata.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *