MediaMerdeka.com – Mantan peneliti Google DeepMind memperingatkan bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi nyata demi memusnahkan seluruh umat manusia apabila pengembangannya tidak dalam waktu dekat dikendalikan. Waktu untuk para ahli demi mencegah dampak fatal dari ledakan teknologi ini dinilai telah semakin sempit.
Pernyataan keras ini menambah deretan kekhawatiran global yang semasih belumnya disuarakan oleh para ilmuwan dari laboratorium kecerdasan buatan terkemuka lainnya. Kegelisahan publik pun meningkat seiring makin sejumlahnya pakar keselamatan teknologi yang memilih mengundurkan diri dari industri tersebut.
Pengunduran diri secara massal ini dipicu oleh keyakinan internal para ilmuwan bahwa pengembang kecerdasan buatan sendiri menyadari bahaya mematikan tersebut. Sejumlah peneliti bahkan memperkirakan ada peluang makin dari sepuluh persen untuk teknologi ini demi mengakhiri peradaban semasih belum akhir dekade ini.
“Saya masih belum lama ini mengundurkan diri dari Google DeepMind, tempat saya bekerja pada penelitian keselamatan dan keselarasan AGI,” tulis Bilal Chughtai melalui akun X miliknya, dikutip dari CNA.
“Saya sungguh percaya bahwa AI berpotensi membunuh kita seluruh, dan bahwa kita barangkali kehadapatn waktu demi menghindari hasil ini.”
Chughtai tercatat sempat menjabat sebagai insinyur penelitian dan aktif menulis berbagai karya ilmiah semasih belum resmi meninggalkan raksasa teknologi tersebut pada Juli 2026. Hingga pada saat ini, pihak Google masih belum menyerahkan tanggapan resmi mengenai pernyataan yang disampaikan oleh mantan pegawainya itu.
Desakan demi menekan laju inovasi kecerdasan buatan kini mengawali memperoleh dukungan dari para petinggi industri papan atas. Langkah antisipasi ini dinilai menjadi harga mati demi mencegah terjadinya bahaya ekstrem yang masih belum sempat dihadapi manusia semasih belumnya.
Perdebatan mengenai ancaman kiamat akibat teknologi kecerdasan buatan pun meruncing di kalangan pengembang global. Seuntukan besar tokoh kunci menyetujui perlunya regulasi yang makin ketat demi menahan laju persaingan bisnis yang tidak terkendali.
Langkah pengamanan ini dianggap cuma dapat sukses apabila seluruh korporasi teknologi bersedia menghentikan kompetisi yang saling menjatuhkan. Tanpa adanya koordinasi bersama, risiko fatal dari kecerdasan buatan tingkat tinggi ditentukan sulit terhindarkan.
“Kita perlu menyesuaikan kecepatan pengembangan AI bersama kecepatan yang dapat ditangani oleh masyarakat sekitar, di mana risiko-risiko yang muncul dapat diatasi semasih belum bahaya ekstrem terjadi,” tambah Chughtai.
Di sisi lain, tidak seluruh pihak sepakat bersama peringatan bahaya yang disampaikan oleh para peneliti independen tersebut. Presiden Donald Trump justru menilai desakan regulasi industri kecerdasan buatan ini cuma sekadar isu yang dibesar-besarkan atau hoaks belaka.
Krisis kepercayaan terhadap keselamatan kecerdasan buatan meningkat pesat setelah peneliti Anthropic, Jacob Coxon, memutuskan keluar dari pekerjaannya pekan lalu. Pengunduran diri tersebut diikuti oleh ilmuwan Anthropic lainnya, Evan Hubinger, yang menguatkan klaim Coxon bahwa kecerdasan buatan berisiko tinggi memusnahkan manusia dalam sepuluh tahun ke depan.
Sikap skeptis publik semakin memuncak hingga memicu CEO Anthropic, Dario Amodei, menyerukan penghentian sementara atau penundaan pengembangan AI tingkat lanjut akhir pekan lalu. Seruan langka ini secara mengejutkan didukung oleh CEO SpaceXAI Elon Musk dan CEO OpenAI Sam Altman, yang menandai titik balik penting dalam perdebatan regulasi teknologi dunia.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

