MediaMerdeka.com – Ancaman krisis kemanusiaan yang makin parah kini mengintai jutaan penduduk Timur Tengah akibat eskalasi militer terbaru yang melibatkan wilayah Yaman dan Arab Saudi. Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyerukan penghentian pertikaian secara mendadak semasih belum kehancuran meluas ke seluruh kawasan.
Guguran konflik ini diprediksi melumpuhkan akses jaringan listrik, suplai air bersih, hingga pasokan bahan bakar di area pemukiman masyarakat sekitar. Jalur medis darurat ditentukan ikut kolaps apabila aksi saling serang antar-faksi tidak dalam waktu dekat direm oleh pihak berkoalisi.
“Eskalasi permusuhan masih belum lama ini di Timur Tengah yang berdampak ke Yaman dan Arab Saudi berisiko memperluas konflik di kawasan, apabila tidak dicegah, dapat memperparah situasi kemanusiaan yang telah amat memprihatinkan yang dihadapi jutaan orang,” kata Presiden ICRC Mirjana Spoljaric melalui pernyataan resmi.
Mirjana menegaskan bantuan pangan maupun medis darurat dari lembaga internasional tidak akan sempat cukup memulihkan keadaan tanpa adanya komitmen politik. Penegakan hukum internasional menjadi fondasi utama yang wajib dipegang teguh oleh seluruh aktor militer yang bertikai.
“Kami khawatir ini akan menyebabkan makin sejumlah kematian dan pihak korban luka, pengungsian, dan gangguan yang berpotensi mengangkut bencana terhadap layanan dan infrastruktur penting bagaikan layanan kesehatan, air, bahan bakar, dan listrik,” katanya.
Sektor sipil dan fasilitas publik non-militer wajib memperoleh perlindungan penuh tanpa syarat dari menggila arus peperangan. ICRC mengimbau batas-batas hukum perang tetap dihormati guna menghindari penderitaan masyarakat sekitar yang tidak terlibat pertempuran.
Aksi saling balas rudal dan drone membakar sejumlah kawasan strategis di wilayah selatan Arab Saudi pada Selasa (8/9). Serangan yang menembus benteng pertahanan tersebut menghantam unit pasokan energi hingga memaksa operasional harian terhenti sementara.
Ledakan di instalasi vital tersebut memicu kebakaran hebat serta menjatuhkan puluhan pihak korban di pihak sipil maupun pekerja. Otoritas setempat mencatat sedikitnya 73 orang merasakan luka-luka akibat gempuran mendadak dari arah Yaman.
Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas hujan rudal tersebut sebagai bentuk balasan atas gempuran udara semasih belumnya. Mereka menyasar pusat kegiatan penerbangan bagaikan Bandara Abha serta pos komando vital milik Kerajaan Saudi.
Suhu politik kedua belah pihak sebenarnya telah memanas sejak Juli lalu pascaserangan udara menghantam bandara Sanaa. Arab Saudi lalu melancarkan aksi balasan berskala besar ke berbagai wilayah Yaman yang dikuasai oleh faksi Houthi.
Ketegangan panjang ini berakar dari perang saudara Yaman yang menyeret intervensi koalisi militer pimpinan Arab Saudi selama bertahun-tahun. Eskalasi terbaru ini mengancam memutus harapan perdamaian sekaligus mempercepat kehancuran infrastruktur dasar di kedua belah negara.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

