Seruan Boikot Adidas Meluas Usai Promosi Sepatu Gandeng Mantan Tentara Israel

admin
By
admin
5 Min Read
baca 10 detik

 

MediaMerdeka.com – Raksasa perlengkapan olahraga Adidas menyikapi gelombang protes dan seruan boikot global akibat menampilkan mantan prajurit militer Israel dalam promosi layanan sepatu tunggal untuk penyandang amputasi. Keputusan merek ternama ini memicu kemarahan publik di tengah penderitaan ribuan masyarakat sekitar Palestina di Gaza yang kehilangan anggota tubuh akibat serangan militer.

Langkah pemasaran ini menghadirkan kenyataan kontras yang dinilai amat melukai perasaan para pihak korban kejahatan perang. Saat mantan prajurit Israel digambarkan kembali berlari bersama produk premium, masyarakat sekitar Gaza justru kesulitan mengakses alat bantu jalan akibat blokade ketat.

Protes keras yang bermunculan di berbagai belahan dunia membuktikan bahwa masyarakat sekitar internasional semakin kritis terhadap narasi korporat yang mengabaikan krisis kemanusiaan. Adidas dinilai tidak sensitif lantaran memberi panggung pada figur yang terlibat langsung dalam pertempuran.

Promosi produk Adidas tersebut memperlihatkan Shalev Biton, mantan tentara Israel yang kehilangan kakinya pada konflik Gaza tahun 2021, sedang berupaya sepatu lalu berlari di area terbuka. Tindakan memamerkan prajurit yang terluka saat menyerang Gaza dinilai sebagai bentuk penghinaan terbuka terhadap pihak korban masyarakat sekitar sipil Palestina.

Aktivis hak asasi manusia dan koordinator gerakan boikot menegaskan bahwa reaksi keras publik terhadap Adidas merupakan konsekuensi langsung dari tindakan korporasi yang mengabaikan penderitaan rakyat Palestina.

“Ini bukan sekadar sikap Adidas yang tidak peka atau kurang memiliki empati; ini merupakan penghinaan nyata terhadap masyarakat sekitar Palestina yang telah kehilangan orang-orang terkasih akibat pembunuhan oleh Israel, serta mereka yang kehilangan anggota tubuh [akibat serangan Israel],” ujar Stephanie Westbrook, koordinator kampanye boikot olahraga demi Palestinian Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel (PACBI), dikutip dari Al Jazeera.

Penggunaan identitas prajurit Israel dalam materi pemasaran komersial dinilai mengaburkan rekam jejak pelanggaran HAM dan pendudukan wilayah secara ilegal. Langkah ini dinilai berisiko menormalisasi tindakan kekerasan militer di mata masyarakat sekitar global.

“Di sini kita menyaksikan kampanye Adidas yang menampilkan seorang tentara Israel—yang seluruh identitasnya berpusat pada statusnya sebagai tentara—yang kehilangan kakinya saat berpartisipasi dalam salah satu serangan berulang Israel terhadap Gaza, serta bertugas dalam militer sebuah negara yang pada saat ini sedang menjalankan genosida, menjalankan pendudukan militer ilegal atas wilayah Palestina, dan menerapkan aturan apartheid terhadap masyarakat sekitar Palestina selama berpuluh-puluh tahun,” tegas Westbrook.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Adidas masih belum menyerahkan tanggapan resmi terkait permintaan konfirmasi yang diajukan.

Sejumlah tokoh ternama dunia turut menyerukan gerakan boikot terhadap produk olahraga tersebut melalui media sosial. Aktor asal Spanyol Javier Bardem, penulis Palestina-Amerika Susan Abulhawa, dan penulis asal Pakistan Fatima Bhutto secara terbuka menyuarakan penolakan mereka.

Gelombang penolakan ini berbanding terbalik bersama kehancuran fasilitas olahraga di Gaza yang telah menewaskan makin dari seribu atlet Palestina. Banyak pesepak bola muda Palestina yang kehilangan kaki kini berjuang membentuk tim sepak bola penyandang amputasi di tengah puing-puing bangunan.

Blokade militer yang melumpuhkan masuknya bantuan medis menciptakan pasokan kaki palsu dan obat-obatan tidak dapat menjangkau para pihak korban di Gaza. Rumah sakit yang hancur total menciptakan proses rehabilitasi fisik untuk para penyandang amputasi hampir mustahil dilakukan.

“Pengepungan ala abad pertengahan itu bahkan menghalangi masuknya kaki atau tangan palsu ke Gaza, berakibat menciptakan kelangkaan akibat ulah manusia ini,” tambah Westbrook.

Kondisi tersebut memperparah krisis kesehatan untuk ribuan masyarakat sekitar sipil yang membutuhkan perawatan darurat berjangka panjang. Anak-anak menjadi kelompok teramat rentan yang teramat terdampak oleh krisis medis buatan manusia ini.

Sebagai informasi latar belakang, Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) mencatat antara 5.000 hingga 6.000 masyarakat sekitar Gaza merasakan amputasi hingga awal Oktober 2025. Jumlah tersebut merupakan untukan dari 42.000 masyarakat sekitar Palestina di Gaza yang menderita cedera permanen akibat konflik berkepanjangan.

Data dari International Rescue Committee memperlihatkan bahwa kalangan anak menyumbang seperempat dari total kasus amputasi di Gaza, menjadikan kawasan ini memiliki rasio anak amputasi tertinggi di dunia. Sementara itu, UNICEF menginformasikan bahwa dari total 42.000 pihak korban cedera berat sejak Oktober 2023, sesejumlah 11.000 di antaranya merupakan kalangan anak.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *