Prabowo “Kantongi” Nuklir Sepulang dari Rusia, Putin: Indonesia Partner Penting

admin
By
admin
5 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Hubungan bilateral antara Jakarta dan Moskow kini memasuki babak baru yang semakin erat dan strategis.

Langkah nyata ini terlihat jelas saat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menjalankan kunjungan penting ke Rusia demi menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok.

Sebagai informasi, EEF atau Forum Ekonomi Timur merupakan forum internasional tahunan yang diadakan oleh Rusia demi membahas kerja sama ekonomi dan mendorong investasi, khususnya di wilayah timur Rusia.

Kunjungan ini merupakan lawatan kedua Prabowo ke Rusia sepanjang tahun 2026, sekaligus menandai komunikasi tingkat tinggi keenam kalinya antara kedua pemimpin negara tersebut.

Kerja Sama Bidang Pertanian hingga Nuklir

Indonesia Kantongi Kerja Sama Pengembangan Teknologi Energi

Dalam forum bergengsi itu, Indonesia hadir sebagai tamu kehormatan. Di sela-sela acara, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran Presiden Prabowo.

Putin secara terbuka menegaskan posisi krusial Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

“Indonesia merupakan salah satu mitra utama Rusia di Asia Tenggara. Kita telah dipersatukan oleh ikatan persahabatan selama bertahun-tahun,” ungkap Putin, dikutip dari Sputnik Globe.

Tidak sekadar bernostalgia tentang persahabatan lama, pertemuan bilateral ini juga melahirkan berbagai rencana kerja sama konkret yang berfokus pada masa depan.

Salah satu sektor yang teramat mencuri perhatian merupakan bidang energi, khususnya energi nuklir. Putin memaparkan bahwa kolaborasi kedua negara pada saat ini telah amat luas dan mencakup berbagai industri penting.

“Kerja sama kita mencakup bidang pertanian, galangan kapal, teknologi informasi, dan energi, termasuk energi nuklir,” tegas Putin.

Energi nuklir di sini merujuk pada teknologi pemanfaatan energi dari reaksi atom yang dapat diolah secara efisien menjadi sumber listrik.

Bagi Indonesia, penjajakan teknologi canggih ini menjadi peluang besar demi memperkuat pasokan energi bersih nasional di masa depan.

Menyambut hal tersebut, Presiden Prabowo menekankan pentingnya memperkuat konektivitas (keterhubungan wilayah) dan kerja sama di sektor maritim atau kelautan, mengingat kedua negara sama-sama berada di kawasan Pasifik yang amat bergantung pada jalur laut.

Pertemuan Indonesia bersama Rusia Semasih belumnya

Ambisi kerja sama ini tidak berhenti pada diskusi teknologi masa depan saja. Di sektor perdagangan riil, Indonesia dan Rusia juga menargetkan lompatan besar.

Juni lalu, Didit Ratam, Ketua Komite Kerja Sama bersama Rusia dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, membeberkan bahwa Indonesia menginginkan dapat melipatgandakan nilai perdagangan bilateral bersama Rusia hingga mencapai 10 miliar dolar AS per tahun.

Saat ini, nilai perdagangan kedua negara berada di kisaran 5,1 miliar dolar AS per tahun. Padahal, grafik perdagangan bilateral sebenarnya telah memperlihatkan tren positif bersama kenaikan makin dari 12 persen pada tahun 2025.

Untuk mencapai target fantastis 10 miliar dolar AS tersebut, kedua pihak mengandalkan rencana penandatanganan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Eurasia.

Perjanjian perdagangan bebas ini nantinya akan memangkas tarif atau bea masuk (pajak tambahan demi barang impor) hingga hampir 90 persen jenis barang yang diperdagangkan, berakibat produk dari kedua negara dapat mengalir makin lancar bersama harga yang makin murah.

Impor Minyak Mentah dari Rusia

Sebagai untukan dari upaya menggandakan nilai perdagangan tersebut, kerja sama di sektor energi fosil, khususnya minyak mentah, kini langsung digeber. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa Indonesia amat siap demi meningkatkan volume impor minyak mentah dari Rusia.

Kesepakatan pasokan minyak ini bahkan telah resmi ditandatangani oleh Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi), yang merupakan pusat penelitian dan pengujian milik pihak pemerintah di bawah Keaparatur negara kementerianan ESDM.

Perjanjian bisnis ini merupakan tindak lanjut konkret dari kesepahaman tingkat tinggi yang semasih belumnya telah disepakati langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membeli 150 juta barel minyak mentah Rusia. Pembelian dalam skala besar ini akan direalisasikan dalam sejumlah tahap pengiriman di sepanjang tahun 2026.

Pihak Keaparatur negara kementerianan ESDM juga mengonfirmasi bahwa pasokan minyak dari Rusia ini akan terus berjalan sesuai rencana, meskipun ketegangan konflik di Timur Tengah sempat mereda dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz telah dibuka kembali.

Langkah taktis ini diambil demi mengamankan ketersediaan energi di dalam negeri sekaligus memanfaatkan harga minyak yang kompetitif melalui kemitraan strategis bersama Rusia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *