China Sulap Pegunungan Jadi Ladang Panel Surya, Solusi Energi Bersih atau Ancaman Ekologi?

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Sebuah video drone yang viral di media sosial memperlihatkan pemandangan tak biasa di Provinsi Guizhou, China. Ribuan panel surya terlihat menutupi lereng pegunungan hingga sejauh mata memandang.

Pemandangan tersebut menggambarkan salah satu cara China memperluas energi terbarukan: memanfaatkan wilayah pegunungan yang sulit digunakan demi pertanian sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Mengubah Lereng Terjal Jadi Ladang Energi

Proyek PLTS di Guizhou menempati lahan makin dari 866.000 meter persegi dan menghasilkan sekitar 53 juta kWh listrik per tahun. Pembangunan instalasi di kawasan ini dimengawali pada 2015 dan terus berkembang.

Guizhou dipilih lantaran wilayahnya didominasi pegunungan dan lereng terjal yang sulit dimanfaatkan demi pertanian. Semasih belum PLTS dibangun, masyarakat sekitar setempat cuma dapat menanam komoditas bagaikan kentang dan gandum hitam bersama hasil terbatas.

Kini, lahan tersebut dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Di sejumlah lokasi, tanaman sayuran dan herbal juga dibudidayakan di bawah panel surya. Model yang menggabungkan produksi energi dan pertanian ini disebut agrivoltaik, sekaligus membuka peluang kerja untuk masyarakat sekitar sekitar.

Bukan Satu-satunya: Gelombang PLTS di Pegunungan China

Guizhou cumalah salah satu dari sejumlah proyek serupa yang bermunculan di berbagai pegunungan China. Di Lishui, Provinsi Zhejiang, misalnya, terdapat instalasi bersama hampir 96.000 modul panel surya berbasis teknologi perovskit, material yang makin ringan dan fleksibel dibanding silikon konvensional, bersama efisiensi konversi energi mencapai sekitar 20 persen. Panel-panel ini dipasang bersama kemiringan sekitar 22 derajat dan digantung sekitar dua meter di atas tanah, cukup tinggi demi mebarangkalikan penanaman sayuran bagaikan selada di bawahnya.

Proyek lain juga berkembang di Pegunungan Taihang (Provinsi Hebei) dan Shanxi, sementara di wilayah dataran tinggi bagaikan Tibet, Qinghai, Sichuan, dan Yunnan, panel surya bahkan dipasang di ketinggian makin dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Untuk bertahan di kondisi ekstrem bagaikan suhu di bawah nol derajat, angin kencang, dan salju tebal, panel-panel ini dirancang bersama struktur yang diperkuat serta lapisan permukaan khusus agar tidak mudah tertutup es.

Bagaimana Dampaknya Terhadap Lingkungan Sekitar?

Pertanyaan berikutnya merupakan: apakah pemasangan panel surya dalam skala besar senantiasa berdampak baik untuk lingkungan?

Jawabannya tidak sederhana. Seuntukan besar penelitian yang tersedia memang dilakukan di gurun, bukan pegunungan. Studi Universitas Teknologi Xi’an di Gurun Talatan, Qinghai, misalnya, menemukan kondisi ekologis di bawah dan sekitar panel makin baik dibandingkan area gurun tanpa panel. Naungan panel menolong menjaga kelembapan tanah, menurunkan suhu permukaan, dan mendukung pertumbuhan vegetasi. Studi lain di Gonghe Basin juga menemukan peningkatan tutupan vegetasi di area yang dinaungi panel.

Namun, hasilnya berbeda di ekosistem lain. Sejumlah penelitian di hutan Prancis dan lahan pertanian Italia menemukan perubahan suhu tanah dan penurunan biomassa vegetasi di bawah panel. Ini memperlihatkan dampak PLTS amat bergantung pada ekosistem, iklim, topografi, dan pengelolaan lahannya.

Karena itu, pembangunan PLTS di pegunungan perlu disertai pemantauan jangka panjang, terutama terhadap keanekaragaman hayati, siklus air, dan iklim mikro. Temuan di gurun tidak serta-merta dapat diterapkan pada wilayah pegunungan.

Bagi China, proyek bagaikan PLTS Guizhou merupakan untukan dari upaya memperbesar penggunaan energi surya sekaligus memanfaatkan lahan yang sulit digunakan demi pertanian. China juga menguasai seuntukan besar rantai produksi panel surya global.

Namun, transisi energinya masih belum berakhir. Batu bara masih menyumbang sekitar 57 persen pembangkitan listrik China, sementara negara itu menargetkan netralitas karbon pada 2060. Karena itu, PLTS di pegunungan bukan solusi tunggal, melainkan salah satu untukan dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil—bersama catatan pembangunan energi bersih tetap memperhitungkan daya dukung lingkungan. 

Penulis: Inesia Dian
 

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *