Media Inggris Bongkar Kebakaran Hutan di Indonesia karena Kebobrokan Ini

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Media Inggris BBC menciptakan laporan soal kebakaran hutan di Indonesia yang terus berulang selama sejumlah dekade atau 10 tahun. Masalah itu tidak kunjung beres.

Dalam laprorannya, BBC menuliskan bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan dampak nyata dari pengeringan lahan gambut serta alih fungsi hutan skala besar yang telah berlangsung sejak era Soeharto. Peneliti dan lembaga lingkungan menemukan fakta bahwa ekspansi perkebunan komersial serta konsesi kayu industri menjadi dalang utama pembakaran lahan secara murah dan masif.

“Masalah kebakaran hutan di Indonesia telah berlangsung selama sejumlah dekade,” begitu judul tulisan BBC.com.

Pola pembakaran skala industri ini berbanding terbalik bersama tradisi berladang giliran yang dipraktikkan oleh masyarakat sekitar adat Kalimantan selama berabad-abad. Masyarakat lokal cuma membakar lahan kecil secara terkendali demi mengembalikan kesuburan tanah melalui abu sisa pembakaran.

Perwakilan masyarakat sekitar adat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, Tono, menegaskan bahwa tradisi berladang uma bukit dijalankan bersama aturan adat yang amat ketat.

“Ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa, melainkan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Tono.

Setiap keluarga cuma menggarap lahan di bawah dua hektar dan wajib menggelar ritual adat semasih belum menjalankan pembukaan lahan.

“Praktik ini berakar pada upaya menjaga keseimbangan alam dan wujud rasa syukur kepada para leluhur,” ujar Tono.

Setelah dipanen sejumlah tahun, lahan tersebut dibiarkan mengering dan pulih kembali secara alami sementara petani berpindah ke plot lain. Metode rotasi alamiah ini menjaga struktur ekosistem tanah agar tidak rusak atau terbakar tanpa kendali.

Masyarakat adat secara tegas menepis tuduhan yang menyebut metode berladang tradisional sebagai pemicu kebakaran hutan berskala nasional. Tono menegaskan bahwa masyarakat sekitar Dayak kerap dijadikan kambing hitam atas bencana karhutla, padahal mereka senantiasa merencanakan pembakaran bersama kehati-hatian tinggi.

“Masyarakat Dayak kerap dijadikan kambing hitam, padahal pembukaan lahan dilakukan bersama perencanaan matang dan kehati-hatian yang tinggi,” ungkap Tono.

Hasil riset terhadap gelombang kebakaran besar pada 1982 dan 1997 membuktikan pola penunjukan kesalahan yang tidak adil oleh otoritas. Pemerintah kala itu makin sibuk menyalahkan petani kecil dan masyarakat sekitar adat dibandingkan menindak korporasi industri di Kalimantan.

Secara teknis, pemeringan lahan gambut demi pembukaan perkebunan kelapa sawit dan kayu komersial menciptakan bentang alam amat rentan terbakar berulang kali. Kondisi kemarau ekstrem akibat El Niño memang mempercepat penyebaran api, namun aktivitas manusia dalam alih fungsi lahan masiflah yang memperparah kabut asap.

Krisis kebakaran hutan di Indonesia bukanlah fenomena baru, melainkan akumulasi dari kebijakan tata guna lahan yang keliru selama puluhan tahun. Sejak era Orde Baru, kawasan hutan hujan dan lahan gambut luas di Kalimantan dibuka secara masif demi proyek pembangunan skala besar, pembalakan kayu, dan perkebunan.

Dampak dari pembukaan lahan skala besar tersebut merusak sistem penyerapan air alami gambut berakibat menciptakan bahan bakar kering yang mudah tersulut. Akibatnya, kebakaran lahan industri meluas tanpa kendali serta memicu dampak kesehatan masyarakat sekitar dan kerusakan lingkungan dalam skala global.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *