MediaMerdeka.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali memperlihatkan bahwa dampak bencana lingkungan tidak berhenti di batas wilayah. Asap dari kebakaran di Indonesia dilaporkan turut memengaruhi kualitas udara di Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung bersama Kalimantan.
Kondisi geografis dan pola angin musiman menciptakan asap dapat bergerak melintasi perbatasan. Bagi masyarakat sekitar Sarawak, dampaknya terasa melalui memburuknya kualitas udara dan meningkatnya risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Menghadapi kondisi tersebut, pihak pemerintah Sarawak menjalankan operasi penyemaian awan selama tiga hari demi menolong mengurangi dampak kabut asap sekaligus menambah cadangan air menjelang periode yang diperkirakan makin panas dan kering.
Operasi tersebut menyasar tiga bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan 13 kawasan tangkapan air di Sarawak.
Ketua Komite Pengelolaan Bencana Sarawak, Douglas Uggah Embas, menyebutkan penyemaian awan dilakukan sebagai langkah antisipasi demi meningkatkan ketersediaan air semasih belum kondisi semakin kering.
“Bulan Oktober ini dapat saja makin panas dan kering. Maka dari itu kita meningkatkan tampungan air selagi kita dapat lakukan itu,” ujarnya, dikutip dari Phys.org, Jumat (4/9).
Penyemaian awan bukan sekadar menciptakan hujan
Penyemaian awan atau cloud seeding tidak dapat dilakukan kapan saja. Operasi ini bergantung pada keberadaan awan dan kondisi atmosfer yang mebarangkalikan proses tersebut berlangsung.
Hujan yang dihasilkan diharapkan dapat menolong mengurangi konsentrasi polutan di udara dan memperbaiki kualitas udara di wilayah yang terdampak kabut asap.
Langkah ini diambil setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk. Pada Kamis lalu, tujuh lokasi tercatat memiliki Air Pollutant Index (API) di atas 300, yang masuk kategori berbahaya.
Kondisi terburuk dilaporkan terjadi di Serian, sekitar 60 kilometer tenggara Kuching, bersama API mencapai 475. Berdasarkan pedoman nasional Malaysia, angka tersebut berada pada tingkat amat berbahaya. Jika API melewati 500, kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan demi menetapkan keadaan darurat lokal.
Dampaknya tidak cuma pada udara
Kabut asap yang berlangsung selama berhari-hari juga meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat sekitar. Sejumlah masyarakat sekitar dilaporkan merasakan gangguan pernapasan akibat paparan asap dari kebakaran.
Di saat yang sama, periode kering yang berkepanjangan menambah tekanan terhadap ketersediaan air di Sarawak. Sejak Januari, lembaga kesejahteraan negara untukan tersebut telah menyalurkan makin dari 450.000 kotak air minum kepada makin dari 225.000 penduduk.
Petugas pemadam kebakaran dan pertahanan sipil masih dikerahkan demi menangani kebakaran lokal. Tenaga kesehatan juga mengimbau masyarakat sekitar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker yang sesuai demi mengurangi paparan asap.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa penanganan kabut asap membutuhkan makin dari sekadar pemadaman kebakaran. Pemantauan kualitas udara, perlindungan kesehatan, pengelolaan air, hingga koordinasi lintas wilayah menjadi untukan penting demi mengurangi dampaknya terhadap masyarakat sekitar.
Penulis: Chairunisa
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

