MediaMerdeka.com – Kasus dugaan beras fortifikasi palsu menciptakan sejumlah konsumen merasa kecewa. Salah satunya Dea (29), pelanggan yang rutin membeli beras merek Sumo dan Idola.
Dea mengaku, memilih kedua merek tersebut lantaran mempertimbangkan kualitas nasi yang dihasilkan. Menurut dia, nasi dari beras tersebut terasa enak dan pulen serta tidak cepat basi.
Meski harganya relatif makin mahal dibandingkan beras lainnya bersama kisaran Rp65 ribu sampai Rp105 ribu per kilogram demi dua merk itu, Dea tetap memilihnya lantaran merasa kualitas yang didapat sebanding bersama harga yang dibayarkan.
“Saya beli itu lantaran rasanya memang enak, nasinya pulen, terus menurut saya juga tidak cepat basi. Jadi walaupun harganya makin mahal, saya tetap beli,” kata Dea kepada MediaMerdeka.com, Kamis (17/8/2026).
Namun, Dea mengaku kecewa setelah mengetahui adanya kasus dugaan beras fortifikasi palsu. Termakin, dia mendapat informasi harga beras tersebut semestinya tidak setinggi harga yang selama ini dibayarkan konsumen.
“Yang bikin kecewa itu ternyata bila memang benar harganya tidak sewajibnya semahal itu. Kita sebagai pembeli kan selama ini bayar lantaran mengira kualitas dan klaim produknya memang sesuai,” ujarnya.
Dea merasa konsumen bagaikan dirinya menjadi pihak yang dirugikan apabila produk yang dibeli ternyata dijual bersama harga jauh di atas harga yang sewajibnya.
Menurut dia, konsumen selama ini tidak memiliki sejumlah informasi mengenai proses produksi maupun kandungan yang terdapat dalam beras. Karena itu, konsumen cuma dapat mengandalkan informasi yang tercantum pada kemasan dan harga yang ditawarkan.
“Kita sebagai konsumen kan enggak barangkali tahu prosesnya bagaikan apa. Kita lihat mereknya, kemasannya, terus beli. Kalau ternyata ada yang tidak sesuai, ya tentu merasa tertipu,” katanya.
Meski kecewa, Dea mengaku masih belum berniat mengganti beras yang biasa dikonsumsinya bersama merek lain. Dia masih menyukai rasa dan kualitas nasi dari beras Sumo dan Idola.
“Saya sebenarnya enggak mau ganti ke merek lain. Sudah cocok sama rasanya. Cuma bila memang ada masalah bagaikan ini, saya menginginkan harganya juga dikembalikan ke harga yang sebenarnya,” tuturnya.
Dea menginginkan produsen yang produknya terbukti menjalankan pelanggaran dapat menyerahkan harga yang sesuai bersama kualitas dan kandungan sebenarnya. Menurut dia, konsumen berhak memperoleh produk sesuai informasi yang diberikan saat membeli.
“Kalau memang ternyata bukan bagaikan yang diklaim, ya jangan dijual semahal itu. Saya menginginkan merek-merek yang terbukti bermasalah dapat menyerahkan harga yang sesuai bersama kondisi produknya,” pungkas Dea.
Semasih belumnya, Keaparatur negara kementerianan Pertanian (Kementan) mengungkap adanya dugaan penipuan dalam perdagangan beras fortifikasi.
Sesejumlah 25 merek beras fortifikasi disebut menjadi temuan pihak pemerintah lantaran diduga tidak sesuai bersama standar maupun kandungan yang tercantum pada label.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

