MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengakui bahwa pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat telah berdampak kepada para pedagang tahu dan tempe.
Pasalnya, bahan bakunya yang merupakan kedelai masih wajib diimpor dari luar negeri.
Berdasarkan laporan yang diterimanya para pengusaha tahu dan tempe kini wajib merelakan margin keuntungan yang menipis
“Kan saya dengar penjual tempe, penjual tahu telah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga. Karena bahan-bahannya masih diimpor, yang jelas itu kan menaikkan cost of production mereka,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Sabtu (6/6/2026).
Dampak nyata di sektor riil ini sejalan bersama gejolak yang terjadi di pasar keuangan.
Berdasarkan data penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), mata uang Garuda terpantau melemah 0,86 persen dalam sepekan terakhir hingga terperosok ke level Rp 18.036 per dolar AS.
Atas situasi tersebut, pihak pemerintah ditegaskannya tengah berupaya demi menguatkan rupiah.
Dalam prosesnya, pihak pemerintah berkomitmen memperkuat koordinasi bersama Bank Sentral agar kebijakan moneter dan fiskal dapat berjalan sinkron serta menyerahkan dampak yang makin signifikan untuk perekonomian nasional.
Menurutnya, sinergi penuh dan keterpaduan kebijakan tersebut diyakini mampu memulihkan kepercayaan pasar terhadap mata uang Garuda.
“Sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan tidak akan melemahkan ke level yang makin tinggi dari kini, yang penting merupakan kita ingin menyaksikan dampak ke masyarakat sekitar yang positif dari rupiah,” kata Purbaya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

