MediaMerdeka.com – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jadi salah satu saham disorot jelang sesi perdagangan IHSG hari Senin (22/6/2026). Sektor perbankan tanah air kembali memikat perhatian para tersangka pasar modal, menyusul rilis ulasan berkala dari lembaga sekuritas yang menyodorkan panduan taktis demi mengoptimalkan keuntungan jangka pendek maupun portofolio jangka panjang.
Dalam pandangan pasar terkini, KB Valbury Sekuritas secara resmi mengeluarkan rekomendasi trading buy demi saham perbankan swasta terbesar di Indonesia ini.
Bagi investor yang aktif menjalankan transaksi harian, koridor masuk yang disarankan berada di kisaran harga Rp6.150 hingga Rp6.300 per lembar saham, bersama patokan target keuntungan di level Rp6.500.
Berdasarkan indikator teknikal grafik harga, level Rp6.500 kini dipetakan sebagai batas resistensi atas yang kuat, sementara titik penopang bawah (support) berada di angka Rp6.150.
“Waspada apabila harga menembus Rp 6.150. Stop loss di level Rp 5.800,” bunyi catatan analisis dari KB Valbury Sekuritas yang dipublikasikan pada Minggu (21/6).
Menengok kinerja pada sesi penutupan hari Jumat (19/6), saham BBCA ditutup bersama performa impresif lewat kenaikan 3,7 percent ke level Rp6.300. Jika ditarik dalam rentang satu pekan terakhir, akumulasi nilainya telah melejit 6,3 percent, serta menanjak 2,8 percent dalam periode satu bulan.
Kendati memperlihatkan grafik pemulihan yang solid belakangan ini, secara kalender tahun berjalan (year to date/ytd) saham perbankan ini masih tercatat terkoreksi dalam hingga 21,9 percent.
Di sisi lain, daya tarik emiten bersandi BBCA ini di mata pemodal internasional justru semakin kuat. Data pergerakan modal memperlihatkan saham ini menjadi komoditas teramat diburu oleh investor global sepanjang minggu pada hari semasih belumnya.
Merujuk data pasar reguler di Bursa Efek Indonesia (BEI) via Stockbit Sekuritas, modal asing yang masuk lewat aksi beli bersih (net buy) pada saham BBCA tembus Rp844,2 miliar selama rentang waktu 15-19 Juni 2026.
Angka akumulasi modal asing tersebut menjadi yang tertinggi di bursa, mengungguli emiten pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang mencatatkan nilai net buy asing sebesar Rp327,2 miliar.
Melihat kuatnya arus modal yang masuk, BRI Danareksa Sekuritas secara resmi mengerek status rekomendasi demi industri perbankan nasional dari yang semula berada di level netral kini naik menjadi overweight (rekomendasi demi memperbesar porsi kepemilikan aset).
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, memaparkan dalam risetnya bahwa keputusan menaikkan status ini didasari pada evaluasi bahwa kejatuhan harga saham bank sejumlah waktu lalu dinilai telah terlampau dalam dan tidak lagi mencerminkan kondisi fundamental korporasi yang sebenarnya.
“Meskipun risiko arus keluar dana asing dan perlambatan ekonomi domestik masih membayangi, kami menaikkan rekomendasi demi sektor perbankan dari netral menjadi overweight,” urai tim analis tersebut.
Dalam peta pilihan sektor perbankan, saham BCA kokoh diposisikan sebagai opsi utama, yang lalu dibuntuti oleh saham PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS).
“Di sektor perbankan, BCA (BBCA) tetap menjadi pilihan utama, yang diikuti oleh Bank BTPN Syariah (BTPS),” sebut Victor.
Kedua emiten perbankan tersebut dinilai memiliki keunggulan kompetitif yang memikat berupa rasio imbal hasil atas aset (Return on Assets/ROA) yang tangguh demi mencetak laba bersih. Di samping itu, tingkat rasio utang atau tingkat leverage keduanya tergolong rendah, berakibat dinilai jauh makin resisten dalam menangkal potensi gejolak apabila terjadi pembengkakan biaya kredit (cost of credit).
Berdasarkan keunggulan makro tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi beli jangka panjang demi saham BBCA bersama target harga yang cukup tinggi yakni mencapai Rp10.900 per lembar saham.
Disclaimer: Analisis pasar modal, proyeksi pergerakan harga teknikal, serta target harga saham BBCA yang tercantum dalam artikel ini merupakan bentuk diseminasi informasi jurnalistik finansial. Tulisan ini tidak mengandung maksud komersial tertentu dan tidak ditujukan sebagai instruksi mutlak demi menjalankan transaksi pasar modal. Setiap keputusan investasi pada instrumen saham dan kripto memiliki risiko kerugian finansial yang menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing pemegang modal.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

