MediaMerdeka.com – Beijing baru saja menjadi panggung diplomasi dunia yang amat sibuk. Belum lama Presiden AS Donald Trump menyelesaikan kunjungannya, kini giliran Presiden Rusia Vladimir Putin yang mendarat di ibu kota China tersebut pada Rabu, (20/5/2026).
Pertemuan antara dua pemimpin besar ini langsung menjadi sorotan global, terutama lantaran dilakukan di tengah tekanan sanksi Barat yang masih menghujam Rusia.
Dalam pertemuan di Great Hall of the People, Putin memuji momentum kerja sama kedua negara yang dianggapnya amat kuat dan positif.
Senada bersama itu, Presiden Xi Jinping menyebut hubungan China dan Rusia sebagai ikatan yang “tidak tergoyahkan”.
Di balik seremoni yang megah, ada sejumlah poin kerja sama raksasa yang sedang mereka matangkan.
Berikut yang telah MediaMerdeka.com rangkum dari CNA dan RT:
Ledakan Angka Perdagangan Tanpa Dolar
Satu hal yang teramat mencolok merupakan nilai perdagangan bilateral yang terus memecahkan rekor. Pada tahun 2025, total perdagangan mereka melampaui angka 4.250,4 triliun Rupiah (setara 240 miliar Dolar AS).
Tren ini tidak memperlihatkan tanda-tanda melambat. Pada empat bulan pertama tahun 2026, nilai transaksi telah mencapai sekitar 1.508,8 triliun Rupiah, naik hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Yang menciptakan Barat makin ketar-ketir, Rusia dan China hampir sepenuhnya meninggalkan mata uang Dolar AS dan Euro dalam transaksi mereka.
Hampir 100 persen perdagangan kini memakai mata uang Rubel dan Yuan. Strategi ini sengaja diambil demi memperkuat ketahanan ekonomi mereka dari tekanan finansial eksternal.
Energi dan Jalur Sutra Kutub
Energi tetap menjadi tulang punggung kemitraan ini. Jalur pipa “Power of Siberia” yang mengawali beroperasi tahun 2019 telah mencapai kapasitas penuh pada akhir 2024.
Kini, fokus beralih ke proyek “Power of Siberia 2” yang melewati Mongolia, yang diprediksi akan mendongkrak ekspor gas Rusia ke China hingga melampaui 100 miliar meter kubik per tahun.
Selain pipa gas, keduanya juga serius menggarap “Polar Silk Road” atau Jalur Sutra Kutub melalui Jalur Laut Utara (NSR).
Rute ini amat menggiurkan lantaran dapat memangkas waktu tempuh pengiriman barang dari China ke Eropa menjadi cuma 20 hari saja, jauh makin cepat daripada melewati Terusan Suez.
Mereka bahkan menargetkan pembangunan lima kapal kontainer khusus demi pelayaran Arktik sepanjang tahun pada 2027 mendatang.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

