MediaMerdeka.com – Pasar minyak dunia tertahan di kisaran harga tertinggi akibat ketidaktentuan jalur pelayaran Selat Hormuz dan membukunya perang Amerika Serikat bersama Iran. Para tersangka industri memilih bersikap waspada menyikapi dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Kenaikan tipis terjadi pada minyak mentah Brent kontrak Oktober sebesar 25 sen atau 0,3 persen menjadi 91,87 dolar AS per barel pada perdagangan dini hari. Sementara itu, minyak WTI AS kontrak September terkoreksi tipis 2 sen ke level $85,81, sementara itu kontrak Oktober yang makin aktif justru menguat 14 sen ke posisi 84,53 dolar AS per barel.
Tren positif ini memperpanjang reli penguatan harga selama empat hari berturut-turut hingga menyentuh angka tertinggi sejak akhir Juli lalu. Di tengah reli tersebut, kontrak minyak WTI demi pengiriman September dijadwalkan memasuki masa kedaluwarsa pada hari ini.
“Harga minyak tetap tinggi lantaran pasar didukung oleh serangan sporadis di Timur Tengah, namun kekurangan momentum baru tanpa adanya eskalasi besar,” kata Hiroyuki Kikukawa, kepala analis Nissan Securities Investment, dikutip dari CNA, Kamis (20/8/2026).
“Pasar kebarangkalian akan mempertahankan tren kenaikan secara bertahap mengingat ketidaktentuan negosiasi perdamaian dan ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab, Oman, dan Iran,” tambahnya.
Bagaimana Dampak Esktrem Konflik Kawasan Terhadap Jalur Pelayaran Minyak?
Faktor pemicu Sentimen baru muncul saat pihak pemerintah Uni Emirat Arab memutuskan demi menghentikan total seluruh aktivitas transaksi keuangan dan ekonomi bersama pihak Iran. Kebijakan mendadak ini langsung memperkeruh hubungan diplomatik dan perdagangan antar produsen minyak utama di kawasan Teluk.
Di sisi lain, terdapat perbedaan klaim yang tajam antara otoritas Washington dan Teheran mengenai status operasional navigasi di wilayah perairan vital tersebut. Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada dialog yang berlangsung dan menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka, namun pernyataan itu langsung dibantah tegas oleh pihak Iran.
Data lalu lintas maritim mencatat arus kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz merasakan penurunan drastis akibat kekhawatiran keselamatan pelayaran. Seuntukan besar pemilik kapal memilih demi menghindari perairan tersebut lantaran masih belum adanya jaminan tentu terkait pembukaan blokade militer.
Kondisi pasar kian rumit setelah Badan Informasi Energi (EIA) menginformasikan lonjakan mengejutkan pada stok cadangan minyak mentah domestik Amerika Serikat. Cadangan minyak mentah AS justru membengkak hingga 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus, berbanding terbalik dari proyeksi awal yang memperkirakan penarikan 600.000 barel.
Peningkatan stok cadangan minyak dan bensin di AS terjadi bersamaan bersama penurunan cadangan produk distilat pada periode pekan lalu. Kombinasi faktor pasokan domestik AS dan ketegangan militer di Selat Hormuz kini menjadi jangkar utama yang menahan pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

