MediaMerdeka.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses menutup pekan perdagangan bersama rapor positif pada Jumat (23/10/2026). Indeks utama pasar modal Indonesia ini terapresiasi sebesar 0,95 persen atau bertambah 51,35 poin, mengangkutnya parkir di level 5.439,25.
Laju indeks tidak sepenuhnya mulus. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat merasakan tekanan dan tergelincir ke zona merah pada jam-jam awal pembukaan.
Namun, indeks sukses membalikkan keadaan (rebound) dan kokoh bertahan di teritori positif bersama rentang pergerakan hariannya berada di level 5.366,29 sebagai titik terendah hingga 5.455,21 sebagai titik tertinggi.
Tingginya antusiasme tersangka pasar tercermin dari ramainya aktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total volume saham yang diperdagangkan mencapai makin dari 43,97 miliar lembar bersama nilai transaksi menyentuh kisaran Rp15,60 triliun hingga Rp16,2 triliun.
Frekuensi perpindahan tangan saham tercatat sesejumlah 1,82 juta kali, mengangkut total kapitalisasi pasar IHSG berada di angka Rp9.604 triliun. Distribusi pergerakan saham didominasi oleh tren positif, di mana 477 emiten menguat, 187 emiten melemah, dan 129 saham lainnya stagnan.
Tepis Bayang-Bayang Profit Taking dan Gejolak Global
Penguatan ini terbilang impresif mengingat IHSG semasih belumnya dibayangi oleh potensi aksi ambil untung (profit taking). Berdasarkan analisis dari Phintraco Sekuritas, pasar domestik tengah dihadapkan pada memburuknya sentimen global.
Kondisi ini dipicu oleh bervariasinya penutupan bursa Wall Street Amerika Serikat pada Kamis (22/10/2026), di mana saham-saham sektor teknologi merasakan tekanan jual yang masif berakibat memicu pelarian investor ke instrumen aset defensif.
Faktor pemberat lainnya datang dari pasar komoditas energi. Harga minyak mentah acuan Brent melonjak sekitar 4 persen hingga menyentuh US$113 per barel. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran baru terkait inflasi yang berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun terpantau melandai makin dari 17 basis poin ke level 4,972 persen. Sementara itu, komoditas emas spot juga merasakan koreksi 2,2 persen menjadi US$4.051 per troy ounce.
Pada bursa regional Asia, kinerja terpantau bervariasi; Indeks Hang Seng menguat 0,69 persen dan Shanghai Composite naik 0,89 persen, sementara Nikkei Jepang terkoreksi 0,25 persen.
Katalis Domestik dan Deretan Saham Penggerak
Di tengah guncangan eksternal tersebut, IHSG justru mendapat dorongan energi dari dalam negeri. Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menerangkan bahwa laju IHSG tertopang oleh rencana reformasi struktural bursa.
BEI berencana mengecualikan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan terlampau tinggi dari perhitungan indeks komposit mengawali 2 November mendatang. Manuver taktis ini merupakan respons langsung atas peringatan MSCI yang semasih belumnya membuka opsi demi menurunkan status pasar ekuitas Indonesia.
Sentimen positif ini langsung direspons oleh pergerakan impresif sejumlah saham kapitalisasi besar (big caps). Di sektor perbankan pelat merah, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 0,34 persen ke posisi Rp2.910, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melesat 1,30 persen ke level Rp3.900 per saham. Saham BUMN lainnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), juga terapresiasi 1,82 persen menjadi Rp2.240.
Selain saham-saham blue chip, lonjakan signifikan juga dicatatkan oleh sejumlah emiten lain, bagaikan VKTR yang meroket 16,96 persen ke level Rp400, saham BUVA yang melambung 20,38 persen menjadi Rp378, serta ASII yang naik 2,25 persen dan ditutup pada harga Rp4.550 per lembar saham.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

