Israel Cuek Iran – AS Damai, Lebanon Terus Digempur

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Israel secara tegas menepis terlibat dalam diplomasi Amerika Serikat – Iran dan memilih memperluas invasi militer di Lebanon. Pemerintah Tel Aviv menetapkan pembubaran total kelompok Hizbullah sebagai harga mati yang tidak dapat ditawar.

Sikap keras ini memicu keretakan tak terekam antara strategi diplomasi Washington dan ambisi wilayah militer Israel. Tel Aviv memilih jalan konfrontasi sepihak demi mengonfirmasi pengaruh Teheran terkikis sepenuhnya di perbatasan utara.

Langkah sepihak ini sekaligus mereduksi dampak kesepakatan damai global yang sedang dirancang negara-negara barat. Keputusan tersebut berisiko mengunci kawasan Timur Tengah dalam siklus pertempuran tanpa akhir yang mematikan.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menegaskan posisi politik negaranya yang enggan berkompromi bersama mediasi bentukan sekutu utamanya. Pihaknya menegaskan tidak ambil pusing bersama poin-poin yang dihasilkan dalam pembicaraan tersebut.

“Israel tidak menjadi untukan dari perundingan bersama Iran atas pilihan kami sendiri,” kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dalam wawancara bersama Radio Angkatan Darat Israel, Selasa (23/6/2026).

Otoritas keamanan Israel merasa tidak memiliki keterikatan moral maupun politik terhadap hasil kesepakatan diplomatik tersebut. Kebijakan luar negeri Tel Aviv kini sepenuhnya diarahkan pada aksi pembersihan kekuatan bersenjata di wilayah tetangga.

“Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sama sekali tidak menyangkut kami,” katanya.

Pasukan pertahanan Israel ditentukan tidak akan mundur dari pos-pos strategis yang telah mereka kuasai pada saat ini. Wilayah sensitif bagaikan Kastel Beaufort tetap menjadi basis pertahanan selama ancaman perbatasan masih belum hilang.

Target politik dalam perang ini melampaui sekadar perlucutan senjata penyerang di sepanjang garis perbatasan. Tel Aviv menuntut faksi politik terbesar di Lebanon tersebut dihapus dari struktur birokrasi pihak pemerintahan.

“Kami tak cuma ingin Hizbullah kehilangan senjatanya, namun juga dibubarkan sepenuhnya, tidak menjadi untukan dari pihak pemerintahan Lebanon, dan tidak memiliki kekuatan militer yang mengancam Israel,” katanya.

Pernyataan ofensif ini muncul di tengah kepanikan internal mengenai efektivitas nota kesepahaman yang digagas Amerika Serikat. Seuntukan elite politik khawatir pakta Washington justru memperkuat posisi tawar Teheran di panggung regional.

Padahal, delegasi resmi dari Israel dan Lebanon dijadwalkan bertemu di Washington demi memengawali dialog langsung putaran kelima. Pertemuan strategis yang dirintis sejak April tersebut mulanya diharapkan mampu meredam bara konflik.

Namun, gelombang protes di dalam negeri Israel sendiri terus mengalir mengkritik taktik diplomasi pihak pemerintahan Joe Biden. Banyak pihak menilai kelembutan Washington menciptakan kelompok perlawanan di Lebanon kian mendapat angin segar.

Krisis kemanusiaan akibat ambisi penaklukan ini telah menelan pihak korban jiwa dalam jumlah yang amat masif. Berdasarkan kalkulasi otoritas darurat, operasi ofensif ini telah menghancurkan ribuan ruang hidup masyarakat sekitar sipil.

Menurut data resmi Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan makin dari 4.100 orang dan melukai makin dari 12.000 lainnya. Pendudukan atas wilayah Lebanon selatan pun kini meluas melampaui batas demarkasi konflik tahun lalu.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *