Peternak Mau Bangkrut Gegara Harga Ayam Turun, Tapi di Konsumen Naik

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengimbau Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Keaparatur negara kementerianan Pertanian dalam waktu dekat turun ke lapangan demi mencari solusi atas persoalan yang dihadapi peternak ayam broiler. 

Langkah ini menyusul peringatan Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengenai ancaman kebangkrutan peternak dalam dua bulan ke depan.

“Saya minta tadi Dirjen Peternakan supaya dalam waktu dekat turun ke bawah dan menyerahkan solusi,” ujar Amran di Keaparatur negara kementerianan Pertanian, Senin (19/10/2026).

Amran juga menyoroti ketimpangan pergerakan harga ayam di tingkat peternak dan konsumen. Menurut dia, harga ayam di tingkat peternak merasakan penurunan, sementara itu harga yang dibayar konsumen justru meningkat.

“Kenapa? Harga di peternak turun, tapi konsumen naik. Ada inflasi lagi, inflasi ayam bersama telur. Inflasi ayam bersama telur. Kan kasihan, ya kan?” ujar Amran.

Semasih belumnya, Permindo memperingatkan peternak ayam broiler berpotensi gulung tikar dalam dua bulan apabila kondisi usaha tidak dalam waktu dekat membaik. Ancaman tersebut muncul akibat harga jual ayam hidup yang rendah di tengah tingginya biaya pakan.

“Kalau kondisi ini dibiarkan terus, dua bulan lagi seluruh gulung tikar,” ungkap peternak broiler dari Permindo, Asep Saepudin, dalam keterangan resminya.

Asep menyebutkan harga ayam hidup sempat turun ke kisaran Rp20.000 hingga Rp20.500 per kilogram. Pada saat bersamaan, harga pakan ayam mencapai Rp9.700 hingga Rp10.000 per kilogram dan diperkirakan masih berpotensi meningkat.

Menurut Permindo, kenaikan harga pakan terus menggerus margin keuntungan peternak, terutama ketika harga jual ayam hidup melemah. Organisasi tersebut memperkirakan kerugian peternak pada saat ini mencapai Rp4.000 hingga Rp5.000 per ekor ayam.

“Lebih mengkhawatirkan di peternak ini harga pakan yang terus merasakan kenaikan,” ucap Asep.

Tekanan biaya produksi tersebut juga membatasi kemampuan peternak mandiri demi melanjutkan siklus produksi berikutnya. Permindo menilai harga ayam hidup di tingkat peternak masih belum memadai demi menutup biaya usaha.

Karena itu, Permindo mengimbau pihak pemerintah mengambil langkah konkret demi memperbaiki harga ayam hidup. Mereka juga mendorong peternak terintegrasi yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan harga pasar agar menyesuaikan harga jual ayam hidup guna mengurangi tekanan terhadap peternak mandiri.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *