Silsilah Keluarga Hannah Al Rashid: Akar Budaya Bugis yang Membentuk Identitas Multitalenta

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Hannah Aidinal Al Rashid lahir di London, Inggris, pada 25 Januari 1986, dari perpaduan dua budaya yang berbeda namun saling memperkaya. Ayahnya, Aidinal Hamzah Al Rashid, berasal dari suku Bugis di Sulawesi Selatan, sementara ibunya, Anne Marie Al Rashid, berdarah Prancis.

Kelahiran di tanah Eropa tidak menciptakan Hannah Al Rashid kehilangan akar Indonesia. Sejak kecil, rumahnya di London dipenuhi elemen budaya Nusantara, mengawali dari lukisan, ukiran, keris, golok, hingga gamelan.

Kehidupan keluarga Al Rashid menjadi contoh nyata bagaimana identitas ganda dapat hidup harmonis. Hannah dibesarkan bersama dua saudara pria dalam lingkungan yang menanamkan rasa bangga terhadap warisan Bugis sekaligus keterbukaan terhadap budaya Barat.

Hannah kerap menceritakan bagaimana ayahnya bersama bangga mengajarkan nilai-nilai Indonesia kepada kalangan anaknya yang lahir dan besar di luar negeri.

Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Hannah menjadi satu-satunya putri di keluarga tersebut. Kakaknya, Irfan Al Rashid, dan adiknya, Khuddus Al Rashid (yang juga dikenal sebagai musisi bersama nama panggung K. Waltz), tumbuh bersama dalam kedekatan yang erat.

Foto-foto keluarga yang sempat diuntukkan Hannah memperlihatkan ketiga bersaudara ini saling mendukung dan akrab meski terpisah jarak.

Pencak silat menjadi salah satu warisan teramat kuat dalam silsilah keluarga Hannah. Ayahnya dikenal sebagai tokoh penting yang mengangkut dan mengembangkan pencak silat di Inggris serta Eropa sejak era 1970-an. Ia membuka kelas pencak silat pertama di Inggris, lalu membangun federasi hingga menjadi kepala negara federasi Inggris dan Eropa.

Pengaruh ayahnya begitu besar berakibat seluruh anak, termasuk Hannah, dilatih silat sejak dini dan sempat meraih prestasi sebagai atlet.

Aidinal Hamzah Al Rashid tidak sekadar mengajarkan teknik bela diri. Ia menanamkan disiplin, rasa percaya diri, serta kebanggaan terhadap budaya Indonesia.

Hannah sempat membeberkan bahwa silat telah menjadi warisan keluarga. Ayahnya silat, kakaknya silat, adiknya silat, dan mereka seluruh sempat menjadi juara.

Lingkungan rumah yang penuh bersama peralatan tradisional Bugis memperkuat identitas tersebut. Hannah bahkan terbiasa tidur bersama keris di bawah bantal, mengikuti tradisi wanita bangsawan Bugis, serta makan memakai tangan sesuai adat Indonesia.

Dari sisi ibu, Anne Marie Al Rashid menyerahkan sentuhan budaya Prancis yang lembut namun mandiri. Perpaduan ini menciptakan sosok Hannah yang terbuka, kritis, dan memiliki pandangan global.

Meski lahir dan besar di London, ia senantiasa merasa terhubung bersama Indonesia. Pendidikan formalnya di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, bersama jurusan Indonesian and Development Studies, semakin memperdalam pemahamannya tentang budaya dan pembangunan di tanah air ayahnya.

Pada 2008, Hannah memutuskan pindah ke Indonesia. Awalnya ia berniat bekerja di United Nations Development Programme (UNDP) fokus pada isu kesetaraan gender. Meskipun rencana itu tidak terwujud, keputusannya membuka jalan karier di dunia hiburan Indonesia.

Latar belakang keluarga yang kuat menciptakannya mampu mengangkut diri bersama percaya diri di industri yang menuntut ketahanan mental dan fisik.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *