MediaMerdeka.com – Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, dilaporkan telah bertemu bersama utusan Amerika Serikat (AS) Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner di Doha.
Pertemuan ini merupakan manuver diplomasi terbaru demi menjembatani komunikasi yang buntu antara Washington dan Teheran.
Semasih belumnya, AS dan Iran telah menyepakati Nota Kesepahaman (MoU) pada 17 Juni 2026 yang berisi perpanjangan masa gencatan senjata selama 60 hari.
Kesepakatan tersebut sejatinya dirancang demi memberi ruang diskusi terkait isu-isu krusial, meliputi status Selat Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, pelonggaran sanksi jangka panjang, serta masa depan program nuklir Teheran.
Meskipun MoU telah ditandatangani, Aljazeera menginformasikan, selama dua pekan terakhir justru memperlihatkan eskalasi konflik. Rencana perdamaian terancam oleh serangkaian insiden, antara lain:
Perbedaan klaim juga memperkeruh suasana. Sementara Washington menegaskan siap menggelar negosiasi tatap muka di Doha, pihak pemerintah Iran bersama tegas membantah adanya pertemuan langsung tersebut.
Klaim Washington: Posisi AS Kuat, Trump Buka Peluang Diplomasi
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengklaim bahwa pihak pemerintahan Trump pada saat ini berada di “posisi yang amat menguntungkan” terlepas dari apa pun hasil perundingan tersebut.
Vance menekankan bahwa infrastruktur militer dan program nuklir Iran telah “dihancurkan”, seraya memperingatkan bahwa AS akan merespons keras setiap provokasi Iran di Selat Hormuz.
Terkait bantahan Teheran soal dialog langsung, Vance menyebut hal itu sebagai retorika belaka.
“Mereka berkata, ‘Tidak ada pembicaraan damai yang sedang berlangsung, namun ada pembicaraan teknis antara AS dan Iran tentang kesepakatan damai.’ Ini merupakan taktik negosiasi dan gaya bahasa Persia yang tidak saya pahami,” ujar Vance dalam siniar The Michael Knowles Show.
Di sisi lain, laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump masih memprioritaskan jalur diplomasi.
Ia dilaporkan bersedia memperpanjang masa gencatan senjata 60 hari apabila hal itu diperlukan demi menuntaskan negosiasi terkait program nuklir Iran, alih-alih mengambil opsi militer.
Bantahan Teheran: Fokus pada Pencairan Dana US$ 6 Miliar
Pemerintah Iran bersikeras bahwa tidak ada aparatur negara tinggi mereka yang duduk satu meja bersama delegasi AS di Doha. Teheran menegaskan bahwa komunikasi cuma dilakukan secara tidak langsung (jalur belakang) bersama menempatkan Qatar sebagai mediator.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

