Rakyat Jepang Setuju Perempuan Jadi Kaisar, Tapi Kenapa Itu Tidak Mungkin Terjadi?

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Parlemen Jepang mengesahkan perubahan historis pada Undang-Undang Keluarga Kekaisaran demi mengatasi ancaman krisis pewaris takhta di masa depan.

Langkah hukum ini secara tegas mempertahankan aturan lama yang mensyaratkan cuma pria dari garis keturunan ayah yang berhak menduduki takhta.

Langkah ini membentangkan tembok tebal untuk Putri Aiko, putri tunggal Kaisar Naruhito, demi memimpin Kekaisaran Jepang.

Padahal, opsi mengadopsi keluarga jauh keturunan pria kini dihidupkan kembali demi menjaga tradisi suksesi patronase tersebut.

Aturan anyar ini menjadi tanda bahwa struktur kekaisaran makin memilih memanggil kembali darah pria keturunan perang ketimbang membuka jalan untuk kepemimpinan wanita.

Revisi regulasi ini mengizinkan pria dari cabang keluarga kekaisaran yang kehilangan status pasca-Perang Dunia II demi masuk kembali ke lingkar istana.

Mekanisme tersebut dilakukan lewat jalur adopsi untuk kerabat pria yang telah menginjak usia minimal 15 tahun.

Diulang DW Jerman, meski pria yang diadopsi tidak mendapat hak takhta secara langsung, anak pria mereka kelak otomatis masuk dalam daftar calon kaisar.

Melalui skema ini, posisi wanita di dalam takhta kekaisaran ditentukan tetap terpinggirkan dari garis suksesi.

Saat ini, garis penerus Kaisar Naruhito yang berusia 66 tahun cuma bergantung pada tiga orang kerabat pria.

Mereka merupakan Putra Mahkota Akishino (60), Pangeran Hisahito (19), serta paman kaisar, Pangeran Hitachi (90).

Pengesahan undang-undang ini memperlihatkan jarak yang makin lebar antara regulasi istana dan kehendak masyarakat sekitar umum.

Hasil survei Mainichi Shimbun pada Juni 2026 mencatat 73 persen publik Jepang sejatinya mendukung hadirnya kaisar wanita.

Dalam jajak pendapat tersebut, sesejumlah 40 persen responden menyetujui kaisar wanita sekaligus suksesi dari garis keturunan wanita.

Sementara itu, cuma 6 persen masyarakat sekitar yang secara tegas menepis ide kepemimpinan wanita di takhta Takamikura.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *