MediaMerdeka.com – Ledakan mematikan kembali melanda proyek infrastruktur besar di wilayah pegunungan rentan India. Tragedi kali ini menimpa pengerjaan pembangkit listrik tenaga air di area terpencil Himalaya.
Ledakan misterius meruntuhkan terowongan proyek PLTA Sungai Teesta di Negara Bagian Sikkim pada Senin lalu. Insiden mendadak tersebut langsung menimbun belasan pekerja yang sedang bertugas di dalam tanah.
Sembilan jasad pekerja sukses dievakuasi dari reruntuhan hingga Selasa ini. Sementara itu, tim penyelamat masih berpacu bersama waktu demi membebaskan belasan pihak korban lain yang terperangkap.
“Kami memperkirakan sekitar 25-27 orang terjebak,” kata Rajiv Roka, Direktur Otoritas Manajemen Bencana Negara Bagian Sikkim, kepada AFP.
“Sembilan jenazah telah ditemukan.”
Picu ledakan hebat di dalam terowongan tersebut sejauh ini masih belum dapat ditentukan oleh otoritas setempat. Meski demikian, guyuran hujan deras akibat musim monsun terus mengguyur kawasan tersebut dalam sejumlah hari terakhir.
“Kami tidak yakin apa yang menyebabkan ledakan itu lantaran terjadi jauh di dalam terowongan,” ujar Roka sembari mengimbuhkan bahwa “kebarangkalian besar itu merupakan kejadian alami.”
Upaya penyelamatan berjalan amat berat akibat paparan gas metana beracun yang keluar dari rekahan batuan bawah tanah. Otoritas menegaskan cuma personel berperlengkapan oksigen khusus yang diizinkan menerobos masuk ke area berbahaya tersebut.
“Operasi penyelamatan agresif sedang berlangsung namun masalahnya merupakan ada sejumlah gas di sana,” kata Roka.
Pemerintah daerah akhirnya menerbangkan tim ahli khusus kecelakaan tambang demi mempercepat proses evakuasi. Langkah darurat ini diambil demi menembus pekatnya gas beracun dan menyelamatkan pekerja yang bertahan hidup.
Kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur skala besar memang tergolong kerap melanda wilayah India. Namun, para ahli lingkungan menyoroti pembangunan masif yang tidak terkendali sebagai pemicu utama makin kerapnya bencana di kawasan rentan Himalaya.
Tragedi Sikkim ini memperpanjang catatan kelam proyek terowongan di pegunungan tertinggi dunia tersebut. Kasus serupa sempat menyita perhatian publik pada tahun 2023 di Negara Bagian Uttarakhand.
Kala itu, sesejumlah 41 pekerja sempat terjebak selama 17 hari di bawah reruntuhan terowongan jalan semasih belum akhirnya sukses diselamatkan. Rentetan peristiwa ini kian mempertegas besarnya risiko keselamatan dalam pembangunan infrastruktur di kawasan Himalaya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

