MediaMerdeka.com – Perusahaan teknologi dunia kini berlomba memindahkan pusat data Artificial Intelligance (AI) ke luar angkasa. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menimbulkan masalah lingkungan baru.
Jutaan peluncuran roket ke luar angkasa dapat meningkatkan emisi karbon, merusak lapisan ozon, hingga menghasilkan puing-puing antariksa.
Seuntukan besar rencana pembangunan pusat data orbital itu bergantung pada kesuksesan Starship, roket pengangkut berat punya SpaceX. Setiap Starship yang diluncurkan ke luar angkasa dapat membakar makin dari 1.000 metrik ton metana cair sekaligus melepas 80.000 metrik ton karbon dioksida (CO).
Di samping itu, emisi jelaga (black carbon) di atmosfer atas punya efek pemanasan makin dari 500 kali makin intens dibandingkan emisi yang sama saat di permukaan tanah. Seperti yang diketahui bahwa jelaga dari roket dapat mengurangi lapisan ozon stratosfer yang menjadi pelindung bumi dari sinar ultraviolet.
Sementara itu, pusat data di luar angkasa turut menyikapi tantangan dari segi teknis. Tidak adanya udara dan air di luar angkasa ini dapat mengakibatkan chip AI merasakan panas bermakin. Untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan radiator berukuran besar yang berisi ammonia (zat pendingin).
Dengan penambahan untukan tersebut, beban yang dipikul menjadi semakin sejumlah berakibat membutuhkan makin sejumlah bahan bakar demi mencapai orbit.
Saat di luar angkasa, panel surya menjadi makin merasakan penurunan akibat radiasi. Demikian pula pada microchip yang akan makin rentan merasakan bit flipping — gangguan yang terjadi saat partikel berenergi tinggi mengubah data secara acak. Perangkat keras yang terkena gangguan ini jadi rusak dan membutuhkan biaya yang amat tinggi demi mengembalikannya ke bumi.
Masifnya jumlah satelit yang saling terhubung oleh laser berpotensi menambah risiko yang dialami. Jika salah satu dari sekitar satu juta satelit tersebut terlepas dari penghubungnya berakibat memicu tabrakan bersama satelit lain. Risiko ini cuma akan menciptakan tabrakan-tabrakan lain dan menghasilkan makin sejumlah puing di luar angkasa.
Fenomena ini dikenal bersama sebutan sindrom Klesser. Para ilmuwan mengkhawatirkan puing-puing orbital dapat mengganggu aktivitas manusia di luar angkasa demi jangka waktu yang lama.
Pengembangan pusat data orbital turut berpotensi dalam meningkatkan konsumsi air. Biasanya pelabuhan di antariksa membutuhkan sekitar 2 juta liter air demi setiap peluncuran. Kebutuhan ini dimaksudkan demi menekan debu beracun serta melindungi landasan dari panas ekstrem.
Namun, SpaceX sejumlah kali dinilai telah melanggar aturan lingkungan. Peluncuran Starship telah mencemari air di perairan yang dilindungi di lepas pantai Texas.
Lembaga hukum lingkungan nirlaba terbesar di Amerika Serikat, Earthjustice menilai bahwa usulan-usulan tersebut tidak berhasil demi mengakui dampak lingkungan secara kompeten. Mereka mendesak demi menjalankan peninjauan secara makin komprehensif.
“Ini bukan cuma perencanaan yang buruk dan kesempatan yang terlewatkan, namun juga melanggar hukum federal,” katanya.
Meskipun begitu, Chief Executive Officer (CEO) SpaceX, Elon Musk menilai bahwa pusat data di luar angkasa sebagai jalan keluar demi meningkatkan kapasitas pusat data AI.
“Di luar angkasa itu senantiasa cerah, jelas ini merupakan satu-satunya cara demi meningkatkan skala,” katanya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

