MediaMerdeka.com – Perang antara Amerika Serikat dan Iran melumpuhkan pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz. Pemilik armada global memilih menghentikan pelayaran guna menghindari risiko serangan pada jalur vital tersebut.
Langkah sepihak Tehran melarang aktivitas pelayaran komersial makin memperkeruh situasi keamanan di Teluk. Penurunan drastis lalu lintas kapal terjadi secara serentak berdasarkan pemantauan berbagai lembaga data maritim.
Data Lloyd’s List Intelligence mencatat pergerakan kapal melintasi selat cuma tersisa 53 unit pekan lalu. Angka tersebut merosot tajam hingga 66 persen dibandingkan periode semasih belumnya yang mencapai 157 kapal.
Penurunan teramat ekstrem terjadi pada sektor pengangkut minyak mentah dan gas alam cair. Jumlah perlintasan kapal tanker anjlok drastis dari 90 pelayaran menjadi cuma 30 armada.
Pemantauan Kpler memperlihatkan intensitas harian kapal merosot hingga ke angka satu digit. Kondisi stagnan ini menghancurkan tren pemulihan aktivitas maritim yang sempat membaik pertengahan Juni lalu.
Mogoknya lalu lintas maritim mengancam stabilitas distribusi seperlima konsumsi minyak mentah dunia. Para pengusaha pelayaran kini bersikap ekstra hati-hati semasih belum melintas.
“Hal-hal telah melambat secara signifikan sejak ketegangan kembali menyala,” kata Bridget Diakun, analis risiko senior di Lloyd’s List Intelligence, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (21/7/2026) sore.
“Itu tidak mengejutkan – orang-orang mundur dan menilai kembali, bagaikan yang Anda duga.”
Meski begitu, lalu lintas komersial di koridor energi tersebut tidak sepenuhnya terhenti total. Pergerakan kapal masih terlihat meski dalam jumlah yang amat terbatas.
“Setiap orang memiliki selera risiko yang berbeda,” kata Diakun.
“Kami masih menyaksikan kapal tanker melintas masuk dan keluar, itu masih belum berhenti sama sekali.”
Diakun memprediksi pergerakan armada komersial akan terus naik turun menyesuaikan dinamika keamanan wilayah. Pemilik kapal cuma memanfaatkan celah waktu aman semasih belum kembali menarik armadanya.
Catatan S&P Global merekam rerata perlintasan harian kapal kini cuma menyisakan 13 armada. Seuntukan besar kapal yang berani melintas diduga memiliki keterkaitan khusus bersama pihak Iran.
Mayoritas pemilik kapal internasional memilih menahan diri dari risiko kehancuran armada. Harapan pembukaan kembali akses Selat Hormuz secara cepat kini dinilai tidak realistis.
“Eskalasi terbaru memperlihatkan bagaimana ekspektasi pembukaan cepat Selat itu terlalu dini,” kata Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Marquee.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

