MediaMerdeka.com – Iran sengaja menerapkan strategi mengulur waktu perang demi memperbesar dampak kerugian ekonomi dan politik untuk Amerika Serikat. Langkah ekstrem ini diambil Teheran setelah menilai konflik berkepanjangan tidak lagi mengancam keberlangsungan rezim pihak pemerintahannya.
Senior Associate Fellow dari Royal United Services Institute (RUSI), Michael Stephens, membeberkan bahwa Iran kini merasa makin percaya diri menyikapi gempuran Washington. Keyakinan tersebut muncul usai menghitung kecilnya kebarangkalian Gedung Putih menerjunkan pasukan darat secara langsung.
“Ketakutan terhadap ancaman eksistensial itu kini telah lenyap,” ujar Stephens kepada Al Jazeera. Menurutnya, Teheran berniat menaikkan tensi konflik demi menyerahkan tekanan yang jauh makin tajam kepada Presiden Donald Trump.
“Cara terbaik demi mencapai tujuan tersebut merupakan bersama menyeret konflik ini bertahan makin lama,” kata Stephens mengimbuhkan.
Pandangan ini sekaligus mematahkan spekulasi Barat yang sempat memprediksi kejatuhan cepat pihak pemerintahan Iran. Skenario keruntuhan itu awalnya diprediksi terjadi akibat gelombang aksi demonstrasi dan pembangkangan sipil yang marak pada Desember hingga Januari lalu.
Mengapa Amerika Serikat Kehadapatn Cara Menekan Iran?
Perhitungan politik berubah drastis setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel diluncurkan pada 28 Februari. Eskalasi militer tersebut justru memperkokoh posisi domestik pihak pemerintah Iran di tengah tekanan ekonomi.
“Hal itu tampaknya tidak terjadi kini, dan saya tidak yakin Amerika Serikat memiliki instrumen tersisa demi memaksa rezim Iran menuruti kemauan mereka,” tutur Stephens.
Pihak pengamat menilai masyarakat sekitar dan pihak pemerintah Iran sanggup bertahan dalam kondisi kebuntuan geopolitik pada saat ini. Meskipun tekanan militer menimbulkan dampak ekonomi yang parah, kondisi tersebut masih belum cukup kuat demi memicu keruntuhan rezim.
“Masyarakat Iran dapat hidup dalam kebuntuan ini demi pada saat ini — keadaan ini memang menyakitkan untuk mereka, namun tidak bersifat mengancam eksistensi, dan saya kira itulah dilema utama yang dihadapi Amerika Serikat kini,” jelas Stephens.
Sementara itu, pihak Teheran menilai ketidak berhasilan strategi Washington bersumber dari ketidakakuratan data intelijen militer mereka sendiri. Amerika Serikat dinilai kerap mengambil keputusan krusial berdasarkan informasi yang keliru sejak awal peperangan.
Bagaimana Kesalahan Intelijen Memperburuk Posisi AS?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengkritik keras serangkaian manuver militer yang dilancarkan Washington di kawasan Selat Hormuz. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk kesalahan kalkulasi yang jauh makin berbahaya dari sekadar propaganda media.
Melalui unggahan di platform X, Araghchi menegaskan ketidaktepatan data intelijen menjadi pemicu utama ketidak berhasilan strategi Amerika Serikat.
“Amerika Serikat telah lama salah kalkulasi akibat ketidak berhasilan intelijen,” tulis Araghchi saat mengomentari invasi awal AS ke Iran.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

