Harapan Terakhir, SAR Gabungan China-Nepal Cari Korban Banjir Bandang di Terowongan PLTA

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Angka kematian akibat banjir bandang gletser di kawasan Himalaya resmi menembus 1.003 jiwa pada Selasa (1/9) waktu setempat. Lebih dari 4.500 masyarakat sekitar masih dinyatakan hilang akibat terjangan gelombang air es dan material batuan yang menghancurkan permukiman di Nepal serta Tibet.

Fokus penyelamatan kini tertuju pada evakuasi sekitar 100 pekerja yang terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air. Tim penyelamat terus mengebor dan meledakkan material lumpur yang menyumbat jalur evakuasi tersebut.

Tragedi ini memicu keprihatinan mendalam atas dampaknya terhadap keselamatan jiwa dan infrastruktur lokal. Luapan air bah berkecepatan tinggi meluluhlantakkan ratusan desa dalam waktu singkat.

“Kami berfokus pada upaya pencarian dan penyelamatan di terowongan, pekerjaan kami terus berlanjut,” kata Raja Ram Basnet, juru bicara Tentara Nepal, kepada AFP pada Selasa.

“Prajurit kami juga dikerahkan demi mengumpulkan jenazah dan mencegah penyebaran penyakit.”

Kapasitas ruang jenazah di Nepal kini telah melampaui batas hingga petugas mengawali menguburkan ratusan jasad tanpa identitas setelah pengambilan sampel DNA. Sementara itu, sedikitnya 17 jenazah ditemukan hanyut sampai ke wilayah aliran sungai di India.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyebut bencana alam dahsyat ini sebagai peristiwa yang “tidak terbayangkan dan amat memilukan”.

Di ibu kota Kathmandu, masyarakat sekitar memadati area luar rumah sakit demi menempelkan foto anggota keluarga yang hilang. Mereka menggantungkan harapan terakhir di tengah proses pencarian yang kian menipis.

Debu Sapkota, seorang pengemudi berusia 58 tahun, mengunggah foto ibu mertuanya yang berusia 83 tahun dan cucunya yang hilang di kota Trishuli Bazaar.

Sinyal peringatan dini sempat berbunyi, namun wanita lansia itu terlalu tua demi berlari.

“Cucunya berupaya menolongnya melarikan diri, namun keduanya tersapu air bah.”

Sapkota menegaskan bahwa dirinya tidak lagi memiliki harapan bahwa mereka selamat setelah para saksi menyaksikan keduanya terbawa arus deras.

“Saya di sini menginginkan dapat menemukan jenazah mereka,” ujarnya sambil memperlihatkan foto kedua kerabatnya yang mengenakan pakaian tradisional.

Proses kremasi mengawali dilakukan oleh keluarga pihak korban di Distrik Chitwan bersama pengawalan ketat. Helikopter militer terus dikerahkan ke wilayah Nuwakot dan Rasuwa guna mendistribusikan pasokan bantuan serta mengevakuasi pihak korban tewas.

Kebutuhan bantuan darurat membengkak seiring ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal di tengah guyuran hujan deras. Kerusakan parah melumpuhkan puluhan jembatan, akses jalan utama, hingga jaringan listrik nasional.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *