Hari Ke-5 Pencarian Korban Hilang Banjir Bandang, Operasi Evakuasi Skala Besar Dimulai

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Evakuasi massal banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet kini bertumpu pada penyisiran jaringan terowongan bawah tanah di tengah lonjakan pihak korban tewas yang menembus 675 jiwa. Upaya pencarian hari kelima ini menandai pergeseran fokus tim penyelamat dari wilayah permukaan menuju struktur bawah tanah yang tertimbun lumpur pekat.

Lembaga penanggulangan bencana Nepal mencatat makin dari 7.500 masyarakat sekitar sukses dievakuasi, sementara hampir 2.500 pihak korban lainnya masih dinyatakan hilang. Di samping itu, sekitar 219 masyarakat sekitar merasakan luka-luka akibat hantaman air bah yang datang mendadak sejak Rabu lalu.

Sektor pariwisata turut terdampak hebat bersama 320 masyarakat sekitar negara asing yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Kendati demikian, otoritas pariwisata setempat mengonfirmasi bahwa 250 wisatawan asing telah selamat dari bencana tersebut.

Kerumunan masyarakat sekitar yang dilanda kecemasan hebat kini memadati Distrik Nuwakot demi menanti kejelasan nasib anggota keluarga mereka. Titik berat pencarian difokuskan pada fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli-3 ‘A’ yang tertimbun material banjir.

Para petugas pemadam dan penyelamat terus menerobos terowongan PLTA bersama harapan menemukan pekerja atau masyarakat sekitar yang selamat di dalam celah kedap air. Kondisi lumpur tebal menjadi hambatan utama dalam menembus kedalaman fasilitas energi tersebut.

Bagaimana Kondisi Kerusakan di Lapangan Menurut Penuturan Saksi?

Dampak kehancuran fisik terbukti amat masif hingga menghapus pemukiman masyarakat sekitar dari peta wilayah. Seorang pria asal Sussex terbang langsung ke lokasi bencana bersama ayahnya demi menyaksikan kondisi desa mereka yang telah lenyap.

“Istri, ibu, paman, dan saudara pria saya hilang, dan lokasi tempat desa saya berada kini sepenuhnya berada di bawah air.”

Kesaksian tersebut menggambarkan betapa cepatnya air bah menenggelamkan seluruh bangunan pemukiman tanpa menyisakan jejak. Banyak keluarga kehilangan kontak total akibat infrastruktur komunikasi yang runtuh.

Di tengah kepungan duka dan kehancuran, keajaiban kecil masih mewarnai proses evakuasi di lapangan. Seorang ibu sukses memeluk kembali putranya yang berusia delapan tahun setelah terpisah selama berhari-hari.

Anak pria tersebut selamat setelah sukses memanjat pohon tinggi dan bertahan di sana hingga luapan air bah menyurut. Momen pertemuan emosional ini memberi titik terang untuk para petugas yang bekerja tanpa henti.

Operasi kemanusiaan ini melibatkan ribuan personel gabungan dari unsur militer, kepihak kepolisianan, dan sukarelawan lokal. Tantangan geografis pegunungan memperberat distribusi alat berat ke titik-titik krisis.

Bencana ini berawal dari banjir bandang mendadak yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu lalu. Curah hujan tinggi di kawasan hulu memicu luapan sungai deras yang mengangkut material lumpur dan bebatuan ke pemukiman padat.

Hingga hari kelima pascabencana, proses pencarian pihak korban hilang masih terus diprioritaskan di sepanjang alur Sungai Trishuli dan area infrastruktur vital.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *