Abu Erupsi Anak Krakatau Bikin Liburan Wisatawan Jakarta Molor, Hotel Lombok Jadi Sasaran

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap perjalanan wisatawan. Sejumlah pelancong asal Jakarta yang tengah berlibur di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), terpaksa memperpanjang masa tinggal setelah penerbangan menuju Jakarta ditunda.

Salah seorang wisatawan, Dea (29), menyebutkan dirinya bersama tiga orang temannya telah berada di Lombok sejak 1 September 2026. Mereka sejatinya dijadwalkan mengakhiri liburan pada Minggu (6/9/2026) bersama penerbangan dari Lombok menuju Jakarta.

Pada hari terakhir liburan, Dea dan rombongannya masih sempat menikmati waktu di Gili Air. Destinasi tersebut menjadi lokasi terakhir mereka semasih belum menyeberang kembali ke Pulau Lombok dan melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Lombok.

Mereka semasih belumnya dijadwalkan terbang memakai pesawat Pelita Air dari Lombok menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 16.15 WIB.

Namun, ketentuan penerbangan menjadi tanda tanya. Dea mengaku telah berupaya menghubungi layanan pelanggan maskapai sejak pagi demi mengonfirmasi penerbangan mereka.

“Sudah kontak CS (customer service) WhatsApp dari pagi tapi lama banget jawabnya,” ujar Dea kepada MediaMerdeka.com, Senin (7/9/2026).

Meski masih belum memperoleh ketentuan, Dea dan teman-temannya tetap meninggalkan Gili Air menuju Kota Mataram. Mereka bahkan sempat membeli oleh-oleh semasih belum melanjutkan perjalanan ke bandara.

Namun, saat berada di Lombok, mereka baru memperoleh informasi bahwa penerbangan menuju Jakarta ditunda.

“Kami telah menyeberang dari Gili Air ke Lombok dan lagi beli oleh-oleh, baru dapat kabar bila penerbangan ditunda sampai tanggal 8 September. Semuanya kaget langsung. Orang wajibnya kita pulang pada hari ini,” kata Dea.

Penundaan penerbangan tersebut menciptakan rencana perjalanan mereka berubah. Dea menyebutkan pihak maskapai menyerahkan kompensasi berupa fasilitas perubahan jadwal penerbangan secara gratis maupun pengembalian dana atau refund penuh.

Kendati demikian, Dea dan teman-temannya memilih memakai penerbangan terbaru pada 8 September 2026.

“Ya mau nggak mau. Kalau jalur darat terlalu lama dan makin mahal lantaran wajib nyebrang dulu ke Bali, nyebrang lagi ke Gilimanuk, terus kereta ke Jakarta,” ujarnya.

Keputusan tersebut menciptakan mereka wajib menambah biaya demi akomodasi selama berada di Lombok. Rombongan yang sewajibnya telah kembali ke Jakarta pada 6 September akhirnya memperpanjang masa tinggal selama dua hari.

Dea menyebutkan mereka langsung mencari penginapan setelah mengetahui penerbangan ditunda. Mereka khawatir hotel-hotel di sekitar lokasi tujuan telah penuh akibat sejumlahnya penumpang yang terdampak penundaan penerbangan.

“Mau nggak mau langsung cari hotel. Takut keburu penuh,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *