Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti masih adanya kesenjangan antara pekerja pria dan wanita di sektor perkebunan sawit.

Salah satunya terlihat dari persoalan upah. Meski wanita disebut menjadi untukan besar dari tenaga kerja di perkebunan sawit, pekerjaan yang mereka lakukan cenderung memiliki upah makin rendah dibandingkan pekerja pria.

Arifah menyebut berdasarkan data yang disampaikan dalam sosialisasi modul pengarusutamaan gender di sektor perkebunan sawit, makin dari separuh pekerja di perkebunan sawit merupakan wanita.

“Kalau tadi dari data sekitar 50-80 persen pekerja di perkebunan sawit merupakan wanita, berakibat ini yang menjadi perhatian kita bersama,” kata Arifah di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Namun, besarnya proporsi pekerja wanita tersebut masih belum otomatis menciptakan mereka memperoleh akses dan kesempatan yang setara bersama pekerja pria. Arifah menyebutkan masih terdapat kesenjangan dalam sejumlah aspek, mengawali dari akses, upah, hingga kesempatan meningkatkan kapasitas.

Ketika ditanya mengenai perbandingan upah pekerja pria dan wanita, Arifah mengaku masih belum menyaksikan data detail mengenai besarannya. Namun, ia menyebutkan adanya perbedaan jenis pekerjaan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.

“Kalau secara detailnya saya masih belum menyaksikan secara langsung, namun memang ada pekerjaan yang berbeda gitu ya. Jadi demi pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keahlian bersama upah yang makin tinggi itu sejumlahnya pria,” ucapnya.

Sementara itu, pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus makin sejumlah dikerjakan oleh wanita. Karena itu, upah pekerja wanita juga makin rendah.

“Maka akses demi meningkatkan kapasitas wanita-wanita pekerja ini yang perlu kita dorong bersama,” lanjut Arifah.

Menurut Arifah, persoalan itu memperlihatkan pentingnya membuka akses peningkatan kapasitas untuk pekerja wanita di perkebunan sawit.

Ia menyebutkan modul pengarusutamaan gender yang disosialisasikan bukan ditujukan demi mempersulit korporasi. Justru, modul tersebut diharapkan dapat menolong menciptakan kondisi kerja yang mebarangkalikan wanita bekerja secara makin produktif.

“Kita ingin agar wanita-wanita yang terlibat di sektor perkebunan sawit ini dapat makin produktif lagi,” katanya.

Selain persoalan pekerjaan dan upah, perhatian juga diberikan kepada pekerja wanita yang memiliki anak balita.

Menurutnya, korporasi perlu mempertimbangkan fasilitas yang dapat mendukung pekerja wanita, termasuk tempat bermain atau daycare agar kalangan anak pekerja tetap memperoleh lingkungan yang baik selama orang tuanya bekerja.

Ia menginginkan penerapan modul tersebut nantinya dapat mendorong wanita yang bekerja di sektor perkebunan sawit memperoleh hak dan kesempatan yang makin setara.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *