MediaMerdeka.com – Serangan fatal menghantam kapal kargo Iran di dekat Pulau Qeshm, Selat Hormuz, hingga menewaskan 1 orang dan melukai 4 ABK lainnya pada Minggu. Insiden maut ini terjadi persis ketika diplomasinya lumpuh akibat penundaan mendadak agenda pertemuan negara-negara Teluk di Oman.
Pemerintah Iran langsung menuding musuh teroris sebagai dalang utama dari aksi penembakan yang membakar kapal tersebut.
Langkah Oman membatalkan pertemuan diplomatik membuktikan keretakan mendalam di antara negara-negara Teluk dalam merespons dominasi Iran atas jalur pelayaran. Pertemuan yang semula dirancang demi membahas tarif transit dan skema kendali rute pelayaran kini membentur dinding tebal perpecahan kawasan.
Otoritas media pihak pemerintah IRNA menginformasikan bahwa kepala daerah Qeshm secara terbuka menyalahkan pihak musuh atas jatuhnya pihak korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Hingga kini, pihak militer Amerika Serikat masih belum menyerahkan pernyataan resmi terkait keterlibatan mereka dalam serangan udara maupun laut di sekitar pulau strategis tersebut.
Beberapa jam semasih belum ledakan kapal terjadi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan ketahanan nasionalnya melalui sebuah unggahan di media sosial.
“Rakyat kami tidak dapat diintimidasi hingga tunduk. Iran tidak akan menyerah,” ujar Pezeshkian.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerahkan klaim yang bertolak belakang saat ditemui di lapangan golf Doonbeg, Irlandia.
“[Iran] amat ingin menciptakan kesepakatan hingga mereka terus-menerus menelpon,” kata Trump merujuk pada Iran.
Saat dicecar wartawan mengenai keterlibatan pasukan AS dalam insiden penyerangan kapal kargo Iran pagi harinya, Trump enggan menyerahkan ketentuan.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengonfirmasi lewat platform X bahwa pembatalan pertemuan aparatur negara kementerian luar negeri regional dilakukan demi menjaga ketentraman bersama.
Pejabat Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Iran, Mohammad Ali Bak, menyebutkan penundaan kesepakatan jalur laut terjadi lantaran adanya penolakan dari sejumlah pihak.
Arab Saudi dikabarkan mengajukan draft amandemen aturan lantaran khawatir rute pelayaran baru yang diajukan Iran dan Oman akan merugikan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Sementara itu, Bahrain menepis hadir lantaran tidak memiliki hubungan diplomatik bersama Tehran, sementara Iraq menjadi satu-satunya negara yang sempat menegaskan siap hadir.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengapung laporan adanya proyektil yang menghantam sebuah kapal hingga memicu kebakaran hebat di Selat Hormuz.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

