Eskalasi Konflik Houthi Berisiko Hambat Pasokan Energi Global, Indonesia Bisa Ikut Terancam

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Eskalasi konflik antara kelompok Houthi dan pasukan pihak pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi di sekitar Laut Merah mengancam stabilitas pasokan energi global.

Penguasaan Pelabuhan Mokha oleh Houthi meningkatkan risiko gangguan lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb, jalur krusial yang dilalui sekitar 12 persen perdagangan dunia termasuk pengangkutan minyak mentah dan gas alam cair.

“Penguasaan Pelabuhan Mokha meningkatkan perhatian dunia lantaran pelabuhan ini amat penting dari sisi ekonomi maupun politik” kata Guru Besar Ekonomi Politik Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Faris Al-Fadhat pada Jumat (18/9/2026).

Meskipun kapal tanker tidak wajib merapat di Mokha, kontrol pesisir di area vital tersebut memberi Houthi posisi strategis demi mengawasi hingga merintangi pelayaran.

“Houthi didukung Iran, sementara itu pihak pemerintah Yaman didukung Arab Saudi. Penguasaan pelabuhan ini menyerahkan sinyal mengenai semakin besarnya pengaruh Iran di kawasan,” ucapnya.

Situasi keamanan yang memburuk berpotensi memaksa korporasi pelayaran mengalihkan rute logistik. Hal itu dapat berdampak langsung pada lonjakan biaya bahan bakar, asuransi, serta pembengkakan ongkos angkut energi global.

Potensi tersendatnya arus distribusi minyak dari kawasan tersebut diprediksi akan merebet pada kenaikan harga minyak internasional secara signifikan.

“Jika jalur perdagangan minyak terganggu, pasokan dunia ikut terpengaruh. Indonesia membeli minyak dari pasar internasional. Jalur yang tersendat dapat memicu kenaikan harga minyak,” ujarnya.

Sebagai negara net-importer minyak yang bergantung pada pasar global, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap gejolak harga dan gangguan pasokan impor energi tersebut.

“Misalnya, kita membeli barang dari Jakarta demi dikirim ke Yogyakarta. Jika ada gangguan di jalan, pasokan barang akan terlambat. Begitu pula dalam perdagangan dunia. Gangguan di wilayah yang dikuasai Houthi dapat menyendat pasokan dan mendorong kenaikan harga,” paparnya.

Lonjakan harga minyak mentah internasional memicu tekanan berantai terhadap perekonomian nasional. Mulai dari pembengkakan beban subsidi energi dalam APBN hingga kenaikan biaya logistik.

Dampak dominonya mengintai sektor industri dan barang kebutuhan pokok, di mana masyarakat sekitar kelas menengah ke bawah menjadi pihak teramat rentan terpukul akibat potensi inflasi.

“Masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi kelompok yang teramat rentan terdampak. Mereka memakai bahan bakar demi mobilitas sehari-hari. Kenaikan biaya energi pada akhirnya juga dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga,” ungkapnya.

“Ketika harga minyak naik, ongkos distribusi meningkat. Akibatnya, harga barang di tingkat konsumen juga berpotensi naik,” imbuhnya.

Tingginya ketergantungan pada minyak impor menuntut pihak pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis guna memperkuat ketahanan energi nasional.

“Indonesia masih belum dapat memenuhi kebutuhan minyaknya sendiri. Seuntukan kebutuhan minyak nasional masih berasal dari luar negeri berakibat setiap gejolak internasional perlu diantisipasi,” tandasnya.

Selain mempercepat diversifikasi energi, pihak pemerintah didesak memaksimalkan jalur dan negara pemasok minyak alternatif serta meningkatkan diplomasi perdamaian di tingkat internasional.

“Indonesia wajib aktif di tingkat internasional melalui diplomasi perdamaian. Pemerintah juga perlu memaksimalkan sumber minyak dari negara dan jalur yang relatif aman agar langkah cepat dapat diambil ketika terjadi guncangan pasokan,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *