MediaMerdeka.com – Dalam dua tahun terakhir, permintaan Jepang terhadap wood pellet asal Indonesia melonjak makin dari lima kali lipat.
Di balik meningkatnya kebutuhan bahan bakar biomassa tersebut, muncul sorotan terhadap risiko deforestasi di Indonesia akibat perluasan rantai pasok kayu demi memenuhi pasar Jepang.
Melansir Global Trade Algorithmic Intelligence Center, impor wood pellet Jepang dari Indonesia meningkat dari 66.460 ton pada 2023 menjadi 402.310 ton pada 2025. Angka tersebut memperlihatkan kenaikan makin dari 500 persen dalam dua tahun.
Lonjakan itu terjadi ketika Jepang juga mencatat peningkatan impor wood pellet secara keseluruhan. Pada 2025, Jepang mengimpor 8,64 juta ton wood pellet, naik 35 persen dibandingkan tahun semasih belumnya.
Pertumbuhan permintaan tersebut menciptakan Indonesia menjadi salah satu pemasok yang semakin penting untuk kebutuhan energi biomassa Jepang. Namun, meningkatnya produksi wood pellet juga menimbulkan pertanyaan mengenai dari mana bahan baku tersebut berasal dan apa dampaknya terhadap hutan alam.
Jepang Kian Mengandalkan Biomassa
Biomassa merupakan material organik, bagaikan tanaman, kayu, dan limbah, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar demi menghasilkan energi.
Jepang mengembangkan biomassa sebagai salah satu sumber energi alternatif di tengah ketergantungannya terhadap impor bahan bakar fosil. Meski kontribusinya terhadap sistem kelistrikan masih relatif kecil, penggunaannya terus berkembang.
Berdasarkan data Institute for Sustainable Energy Policies yang dikutip Phys, biomassa menyumbang kurang dari 6 persen pembangkitan listrik Jepang pada 2024.
Pertumbuhan kebutuhan biomassa tersebut ikut meningkatkan permintaan terhadap wood pellet dari negara-negara pemasok. Indonesia menjadi salah satu negara yang merasakan lonjakan permintaan teramat besar.
Jika dibandingkan bersama 2023, volume wood pellet asal Indonesia yang masuk ke Jepang pada 2025 meningkat makin dari lima kali lipat.
Persoalannya, peningkatan permintaan tersebut tidak cuma berkaitan bersama perdagangan komoditas. Ada rantai pasok panjang yang menghubungkan kebutuhan pembangkit listrik di Jepang bersama sumber bahan baku kayu di Indonesia.
Ketika Biomassa Menekan Hutan Alam
Direktur Auriga Nusantara, Timer Manurung, yang turut berkontribusi dalam analisis mengenai biomassa Indonesia, menyebutkan seuntukan besar produk biomassa Indonesia ditujukan demi pasar ekspor.
“Industri biomassa telah menjadi pendorong baru deforestasi di Indonesia,” kata Timer.
Menurut dia, Jepang menjadi salah satu tujuan utama produk biomassa Indonesia. Kondisi tersebut menciptakan peningkatan kebutuhan biomassa Jepang memiliki keterkaitan bersama bertambahnya produksi biomassa di negara pemasok.
Potensi dampaknya terhadap hutan terlihat dari analisis Earth Insight, Auriga Nusantara, dan Aliansi Masyarakat Adat Kepulauan. Mereka menemukan sedikitnya 45 konsesi biomassa di Indonesia yang mencakup makin dari 750.000 hektare hutan alam.
Ekspansi tersebut tidak cuma berpotensi mengurangi tutupan hutan. Masyarakat adat yang hidup di sekitar kawasan konsesi juga dapat terdampak lantaran hutan menjadi sumber penghidupan sekaligus untukan dari kehidupan dan kebudayaan mereka.
“Hal itu akan sepenuhnya menghapus seluruh tutupan alam yang menyediakan penghidupan dan merupakan untukan integral dari budaya masyarakat sekitar,” kata Timer.
Celah Uji Tuntas Jepang
Masalah berikutnya muncul pada bagaimana Jepang mengonfirmasi bahan baku wood pellet yang masuk ke negaranya tidak berasal dari deforestasi.
Spesialis kehutanan sekaligus peneliti Global Environmental Forum, Syoko Iinuma, menilai terdapat celah dalam kebijakan uji tuntas Jepang yang berpotensi menciptakan wood pellet terkait deforestasi tetap masuk ke pasar.
“Kami amat frustrasi. Kami bahkan telah mengimbau uji tuntas berkali-kali,” kata Iinuma.
Jepang memang telah menghentikan subsidi demi proyek biomassa berskala besar yang baru. Namun, kebijakan tersebut tidak serta-merta mengakhiri dukungan untuk proyek yang semasih belumnya telah memperoleh sertifikasi.
Proyek yang telah tersertifikasi masih dapat menyambut baik subsidi hingga 20 tahun setelah mengawali beroperasi. Artinya, permintaan terhadap bahan bakar biomassa masih berpotensi bertahan dalam jangka panjang meski subsidi demi proyek biomassa skala besar baru telah dihentikan.
Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata seberapa besar Jepang meningkatkan penggunaan biomassa, namun bagaimana kebutuhan energi tersebut dipenuhi dan apakah bahan bakunya menimbulkan tekanan baru terhadap hutan Indonesia.
Penulis: Chairunisa
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

