MediaMerdeka.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membongkar maraknya praktik kecurangan dan penipuan mutu beras premium atau beras fortifikasi yang menciptakan kerugian hingga Rp 89 triliun.
Mentan Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) membeberkan bila temuan ini berasal dari uji laboratorium, yang label beras biasa dimanipulasi menjadi beras fortifikasi.
“Ini labelnya premium namun beras biasa, kerugiannya merupakan Rp 89 triliun, kurang makin Rp 90 triliun. Minggu lalu, fortifikasi labelnya namun berasnya biasa. Harganya Rp 13.000 dijual Rp 56.000, harganya Rp 13.000 dijual Rp 40.000,” ungkap Amran dalam konferensi pers Penindakan Impor Ilegal Beras, Garam, dan Balpres di Kantor Bea Cukai, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Ia menegaskan bahwa kecurangan ini kian parah lantaran terindikasi dilakukan oleh tersangka berulang atau residivis, di tengah maraknya aksi penyelundupan beras dari luar negeri.
Bahkan Amran mengklaim bila selama dua tahun terakhir, beras justru bukan komoditas yang menyumbang inflasi di Indonesia.
“Ini salah satu yang mengangkat harga beras, padahal dua tahun terakhir beras bukan lagi penyumbang inflasi. Nah ini kerugiannya 89 triliun, dan ada yang tersangkanya telah dua kali, berarti residivis, berulang, dan tidak jera,” beber Amran.
Selain penipuan harga dan mutu, Amran mengingatkan agar masyarakat sekitar dan aparat tidak menganggap remeh aksi penyelundupan atau impor beras ilegal yang masuk ke Indonesia.
Menurutnya, dampak impor ilegal tidak boleh cuma dilihat dari kecilnya jumlah atau tonase barang, melainkan ancaman penyakit hama biosekuriti yang dibawanya.
Ia mencontohkan kasus kecolongan impor daging ilegal saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda Indonesia pada kurun 2022–2023 yang berdampak fatal untuk peternak nasional.
“Jangan menyaksikan jumlahnya, dampaknya. Indonesia sempat kecolongan, itu 2022-2023. Itu masuk daging cuma satu kontainer ilegal waktu itu, namun dampaknya merugikan petani Rp 40 triliun. 2 juta sapi yang kena penyakit kuku dan mulut (Foot and Mouth Disease) ini masuk ke Indonesia, padahal satu kontainer,” papar dia.
“2 juta makin ekor sapi mati seketika. Populasinya langsung turun 2 juta makin. Jadi jangan lihat jumlah kecilnya, tapi penyakitnya,” ucapnya lagi.
Amran menegaskan bahwa meski Indonesia telah mencapai swasembada pangan, aksi penyelundupan beras ilegal yang kini telah merambah hingga wilayah Jakarta wajib terus diwaspadai lantaran mempertaruhkan nasib ratusan juta jiwa.
“Nah ini merugikan petani kita, 115 juta petani yang dirugikan bila ada impor bagaikan ini. Penyakitnya kita waspadai, lalu merugikan petani juga dari segi jumlah beras. Kita telah swasembada tapi masih ada penyelundupan,” tegasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

